Kamis, 30 November 2017

Before Dawn

Saat kereta itu mulai meringik bergerak perlahan, lalu berlari meneriaki rembulan dengan suara lolongannya yang tajam, terus melesat membelah malam yang kesepian. aku tahu kau diluar statsiun juga berlari mengejar kereta ini, dan aku cuma duduk menatapmu nanar dari jendela sambil melambaikan tangan dan menyumbang senyum pilu. Kamu tetap keukeuh berlari, memaksa kakimu bergerak mencapai kereta itu. Tapi secepat apapun kakimu berlari, kereta itu nampaknya tak memiliki niat untuk berhenti untuk sekedar mengizinkan kita saling bertukar kata perpisahan. setelah itu kamu benar-benar menghilang dari pandanganku, tersamarkan malam. Yang nampak cuma rel panjang yang berkilau oleh cahaya rembulan. Begitulah kereta ini terus berlari membawaku, menyusuri ladang-ladang jagung yang muram, menenggelamkan aku dalam perjalanan panjang menuju kota kelahiran Salomon dengan semua kilaunya yang membutakan dan melupakan. itu sudah berlalu berapa tahun? empat atau lima tahun? Tapi rasanya seperti baru saja malam kemarin. Malam ini aku tiba-tiba mengingatmu Adam, mengingatmu penuh luka namun tanpa air mata. Seperti rindu yang membiru itu berkorelasi dengan rasa perih yang sudah biasa kutoleransi. Hingga akhirnya aku tak mampu membedakan warna cerah  bahagia dengan warna muram kepedihan. Semuanya terasa sama. aku sudah mati rasa merindumu tapi sialnya aku belum juga bisa berhenti mencintaimu.

Hujan turun lagi sore ini, setelah pertemuan dengan editor aku pun memutuskan untuk membawa semua pekerjaan ke rumah. Malam ini aku tidak mau mati kedinginan sembari bekerja di kantor karena aku tidak yakin pemanas ruangannya sudah berfungsi lagi. Setelah berpamitan kepada Ellen dan Tuan Hermes, aku pun bergegas menuruni tangga. 
Ah aku melupakan payungku lagi nampaknya pagi ini sebelum berangkat. Aku masih sama cerobohnya seperti dulu Adam, tapi dulu ketika kita bersama aku tahu kau akan selalu berdiri di depan gerbang dengan payung birumu, kemudian kita berjalan berangkulan menembus hujan melewati Bringsworth Alley sambil menertawakan anak-anak pemilik toko roti bermain air dibawah derasnya hujan. Sekarang aku harus menunggu hujannya reda atau berlari sendiri menerobos hujan dengan resiko terkena pilek lagi setelahnya.
Oh bahkan hal sekecil ini pun membuatku merindukanmu, Adam.

"Tidak bawa payung lagi, huh?" tanya Luke yang entah sejak kapan sudah berdiri seperempat meter disampingku.
Aku hanya tersenyum kecut. 
"Mau pakai ini?" dia menyodorkan payung hitamnya padaku.
"Oh, tidak usah terima kasih, bukankah kau juga akan pakai itu untuk pulang?" 
"Aku punya ini, tidak usah khawatir!" dia menyodorkan payungnya ke tanganku dan kemudian dia memayungi dirinya dengan jubahnya lalu berlalu begitu saja dalam hujan.
"Tidak! Luke, tunggu!" teriakku sia-sia karena dia sudah lari semakin jauh menembus hujan.
Selalu saja seperti itu. tiba-tiba aku membenci diriku yang amat teledor ini.
(Dalam "Before Dawn" oleh Kinoy Sora, 2017)

Selasa, 29 November 2016

Ketika 24 Jam Masih Belum Cukup


Beberapa waktu lalu sempat terlontar keluhanku kepada sahabat segeng, “Duh, rasanya lelah banget banget nih gue, di kosan Cuma numpang tidur sekejap sama mandi doang, masa tiap hari ga lebih dari 6 jam gue ada di kosan. Pulang tengah malem, berangkat pagi buta. Gue kayaknya butuh lebih dari 24 sehari buat ngejalanin semua aktivitas gue” celetukku ditengah kerja kelompok membuat makalah salah satu matkul. “Hm Rin, emang segitu padetnya ya aktivitas lu? Awas ah jaga kesehatan, perbaiki lagi hayo time managementnya!” saran seorang sahabat.


Setelah difikirkan kembali, betapa nistanya diri ini, Allah memberikan 24 jam sudah sangat proporsional, disesuaikan dengan kapasitas diri kita dalam beraktivitas. Bahkan idealnya pembagian 24 jam waktu itu adalah 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi dan ibadah. Tapi manusianya saja yang bisa jadi selalu merasa kurang karena menuruti hawa nafsunya. So me, bukan waktunya yang kurang, tapi kitanya yang bisa jadi tidak bisa memanfaatkan dengan baik, kita bisa jadi yang memang terlalu serakah dengan hal-hal keduniaan sehingga waktu 24 dalam sehari, 7 hari dalam seminggu itu dirasa masih belum bisa memenuhi semua hasrat dan keinginan kita untuk mengejar banyak hal.

Banyak orang menyangka, menjadi mahasiswa yang sibuk dengan segudang aktivitas itu keren, berarti produktif dan hits banget ya, keren dia punya skill yang dibutuhkan di banyak area kegiatan sosial mahasiswa. Iya. Memang. Tapi yang keren itu nggak Cuma mereka yang sibuk dengan seabrek kegiatan, sampe-sampe rasanya dimana-mana kalo ketemu sama dia, kerjaannya lagi rapat mulu. Yang lebih keren itu dia yang tau kapasitas dirinya sampai mana dan kebutuhan dirinya seperti apa aja, jika dengan 1 atau 2 kegiatan luar aja udah cukup memenuhi kebutuhan, kenapa harus ribet ikut perpuluh-puluh kegiatan?! Apalagi kalo niat ikutan kegiatannya cuma buat keren-kerenan doang, nggak lah ya! Ingat lho ya tubuh punya hak untuk istirahat yang cukup dan berkualitas. Ini pesan terkhusus buat diriku sebenernya.

Mengetahui kapasitas diri itu perlu, supaya nggak kedodoran dan kewalahan sendiri ngatur waktu. Mengetahui hal apa aja yang bisa dikembangin dan diasah dalam diri juga penting, biar bisa memaksimalkan potensi diri dan jadi manusia yang bermanfaat, tapi dibalik itu semua, ga kalah penting untuk menunaikan semua kewajiban kita dulu. Jangan sampai yang sunnahnya dilakonin tapi yang wajib terabaikan. Kaya misal, tujuan utama kuliah apa? Ibadah sambil belajar kan ya, ini tuh malah sibuk banget kegiatan non-akademik sampe ibadah dan belajarnya (akademiknya) terlalaikan.

“gunakan kesempatan yang masih diberi, semoga kita takkan menyesal... Masa usia kita, jangan disiakan, karena ia takkan kembali... Ingat 5 perkara, sebelum 5 perkara, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, hidup sebelum mati”  jadi inget kutipan hadis Rasul yang disenandungkan dalam nasyid “Demi Masa” oleh Raihan yang juga sempat aku senandungkan dulu saat perayaan maulid nabi di madrasah diniyah. “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, melainkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, yang nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran” (QS Al-Ashr: 1-3).

Memang benar, ada banyak hal yang bisa kita capai dalam hidup kita, ada banyak visi dan mimpi yang memacu kita untuk  terus berjuang dalam upaya mencapainya. Selalu ada alasan "mumpung masih muda! mumpung masih jadi mahasiswa!" tapi tak sedikit yang memaknakan kata ini untuk mereka melakukan apapun yang mereka mau, terlepas dari worth it atau nggaknya apa yang mereka lakukan. Kenapa harus worth it? oh God! your past never back!  so, mari melakukan yang terbaik! mari menjaga diri kita dari ketidakbermanfaatan! jadi aktivis yang zuperbussy itu pilihan kita, jadi mahasiswa yang kupu-kupu juga pilihan kita, jadi mahasiswa yang ngejar prestasi segudang tentu pilihan kita juga, tapi kita nggak punya pilihan dan nggak bisa nawar-nawar lagi untuk waktu yang Allah kasih untuk kita, 24 hours per day and 7 days per week, 4 weeks per month and 12 month per year! jadi, silakan puter otak buat cari cara cerdas untuk memanfaatkan waktu, gimana caranya supaya itu waktu bisa dibikin produktif, seimbang antara kewajiban utama sebagai manusia, absolutely ibadah kepada Allah, dan semuamuanya kegiatan dan rutinitas kita.   


Seberapa cerdasnya pun seorang ilmuan, tapi ia takkan mampu mengembalikan waktu yang telah berlalu, meskipun hanya 1 detik saja. Seberapa kayanya pun kita, takkan mampu kita membeli waktu yang telah berlalu, meskipun hanya 1 detik saja. Maka dari itu, aku menulis ini sebagai refleksi diri untuk bisa mengatur waktu dengan baik, tidak mengabaikan hak-hak Allah dan hak-hak diri atas waktu yang diberi selama 24 jam dalam sehari. Mari mengoreksi diri atas waktu-waktu yang telah berlalu, sudahkah digunakan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan diri dengan penjemputan-Nya yang pasti terjadi?! Ashtagfirullahaladzim, alladzi laa illahaillhuwalhayyul qayyum waatubuilaik.

Senin, 21 November 2016

Menerima Masalalu

Jika ditanya, hal apa yang paling sulit untuk aku lakukan? maka jawabanku adalah "Menerima Masalalu".  Kenapa begitu? Simak, inilah kisahku.
Setiap orang berkembang seiring menuanya usia kronologis dan matangnya usia psikologis. Idealisme yang terbangun dari mulai kita mampu berfikir kongkret hingga mampu berfikir abstak seperti sekarang ini. Banyak hal yang dulu fit dengan idealisme kita, namun setelah sekarang idealisme itu berubah semakin matang, hal-hal yang dulu kita lakukan kita sadari dan kita maknakan sebagai suatu kekeliruan dan kebodohan. 
Hidup terus berjalan, waktu terus bergulir, tidak
pernah ada tombol pause, stop, replay ataupun back
jadi, cobalah untuk terus berjalan dan terimalah
 siapapun kita dulu dan dari manapun kita bermula
Di masalaluku, banyak hal-hal jika jika aku terkenang dengan semua itu, maka aku benar-benar bisa mengutuki diriku sepanjang malam. Parahnya, bayangan masalalu tak bisa benar-benar hilang dengan mantra "Simsalabim" atau musnah begitu seja dengan sekali ketuk "Avadra Kadavra". Aku berfikir bahwa mengapa bisa sedemikian bodoh dan naifnya aku dulu sampai-sampai bisa melakukan hal-hal seperti itu dulu, padahal jika difikir kembali, seharusnya aku tahu itu adalah  dosa yang pantang dilakukan. Lalu aku meminta ampunan Tuhanku atas semua kesalahanku, lalu dengan penuh harap aku pupuk keyakinan bahwa Tuhanku sebaik itu, dia sudah jelas pasti mau mengampuni semua kesahalanku asal aku benar-benar bertaubat dan tidak lagi melakukannya. Aku rasa kini aku benar-benar bertaubat dengan hal itu.

Aku berfikir bahwa diriku harus menjadi sesempurna itu, namun ternyata aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku berasal dari suatu kisah pilu di masa lalu. disonansi kognitif yang benar-benar menyiksa. Aku tidak lagi menjadi sempurna seperti apa yang aku inginkan selama ini.
Melihat hal ini, maka aku harus belajar menerima masalalu, belajar memaafkan ketidaksempurnakan diriku, belajar untuk berhenti mengutuki kebodohanku di masa lampau dan kemudian mulai menerima semua kekurangan yang membuat aku belum mampu mencapai idealisme yang aku bangun. Aku harus bisa membebaskan diriku dari perasaan bersalah yang selama ini menjadi parasit, menggerogoti rasa percaya diriku dalam membangun kesempurnaan versi baru di masa depan. Aku harus belajar mengampuni diriku sendiri, sebagaimana Tuhan yang juga mengampuniku. Untuk apa selama aku memohon ampunan pada Tuhan, sedang diriku sendiri saja masih belum bisa mengampuni diriku?! 

Memikirkan kebodohan di masalalu hanya membuang banyak waktu yang seharusnya bisa digunakan lebih bijak untuk melakukan hal lain yang lebih bermanfaat. Faktanya menyumpahserapahi masalalu takkan bisa mengubah siapa diriku saat ini. Tuhan menciptakanku dengan penuh cinta dan kasih, taoi kenapa aku tak bisa mencintai diriku sendiri?! Kesempurnaan sebenarnya bisa jadi hanya bernilai subjektif saja, maka jadilah sempurna dengan cara dan versi kita sendiri. hiduplah untuk saat ini, berfikirlah tentang masadepan, dan belajarlah dari masa lalu. lepaskan dirimu dari semua rasa sesal dan bersalah,ampuni dirimu, lalu berjalanlah lebih jauh untuk meraih masa depan yang gemilang.

Senin, 17 Oktober 2016

Antara Emak dan Kesibukan Seorang Aktivis

Hola, kali ini aku akan coba membahas kesibukan dan panggilan pulang, buat kita-kita yang katanya aktivis kampus. Untuk kita para pengadu nasib di perantuan.Semoga potongan kisah ini dapat menghangatkan kembali semangat untuk segera pulang, melepas kerinduan dengan kampung halaman.


Kau boleh pergi kemanapun sesuka hatimu, tapi jika panggilan pulang itu sudah diserukan, pulanglah! Karena kau masih memiliki rumah yang merindukan kehadiranmu dan selalu menerimamu apa adanya,
Malam tadi, selesai shalat Isya, tiba-tiba si Champy berdering,
ternyata Mama yg telpon.
masih make mukena, aku geser layar si Champy lantas aku tempelkan k kuping kiri.
Me: "Assalamualaikum"
Ma: "Waalaykumussalam, Dek, lagi dimana?" (suara Mama terdengar lesu diujung sana)
Me: "Di kosan kok Ma, kenapa Ma?"
Ma: "Oh gapapa, Mama lg pengen ngobrol aja, udh makan?"
Me: "udah Ma, baru aja bikin indomie telor double"
Ma: "Jangan Indomie mulu! Nggak sehat Dek!"
Me: "Ini lagi pengen aja Mah, males banget ke warteg!"
Ma: "Dek, abis UTS libur nggak?"
Me: "Unpad mana ada libur Ma..."
Ma: "Oooh...." (nadanya turun, terdengar kecewa)
Me: "Kenapa Ma?"
Ma: "Papah nggak jadi pulang akhir bulan ini, dari Tegal mau  langsung ke Pekalongan, dapet tender disana"
Me: "Iya, tadi Papah telpon, Yaudah doain aja semoga Papah sehat terus. Mama lagi di rumah?"
Ma: "Iya, sepi banget di rumah Dek..."
Me: "Mama mau Adek pulang ya?"
Ma: "Adek kan nggak ada libur...."
Me: "Yaudah, Adek pulang ya insya Allah Jumat depan"
Ma: "Beneran? (nada bahagia) Tapi, adek kan pasti sibuk sama kegiatan lain" (nadanya turun lagi)
Me: "Iya Pulang insya Allah, kegiatan ada banyak Mah, tapi Adek tau kalo Adek harus pulang"
Ma: “Kalo Adek sibuk nggak apa-apa nggak usah pulang, jalanin aja dulu semua amanahnya!”
Me: “Amanah Adek nggak sekedar ikut rapat dan kegiatan, tapi juga berbakti sama Mama!”

Dan setelah itu Mama cerita panjang lebar dengan penuh antusias semua kegiatannya di kantor, kerjaannya, keadaan rumah sampai gosip terbaru di RT 1. ***Emak-emak banget ya... wkwkwkwk
Iya aku peka kok Ma, kalo Mama lagi pengen ditemenin & lagi kesepian banget di rumah.

Sangat dianjurkan kok aktif dibanyak kegiatan dengan niat ingin memaksimalkan potensi diri & menjadi Manusia yang lebih bermanfaat,  Tapi jangan sampai orangtuamu jadi prioritas nomor 7. Sehebat-hebatnya kita sebagai seorang aktivis mahasiswa, sekece-kecenya kita sebagai aktivis dakwah, kita tetaplah buah hati kesayangan ibu dan ayah kita, dan kepada merekalah pula bakti utama kita.
Seumur hidup kita diurus mereka, dididik & dibesarkan hingga kini, lalu sekarang sudah bisa merantau demi menggapai semua cita mereka jadi terlupakan karena semua kesibukan kita. Walaupun kita merantau pun tujuannya untuk memperbaiki nasib dan membahagiakan mereka, tapi ingatlah bahwa kebahagiaan yang tak kalah berarti yang bisa kita persembahkan untuk mereka bukan hanya sebatas materi, tapi juga afeksi dan eksistensi (keberadaan) kita disamping mereka. Nah, Padahal sorga kita saja ada pada telapak kaki Ibu kita, ada pada ridha ayah kita, kunci sukses kita terletak pada do'a mereka. Maka, jika panggilan pulang itu sudah datang, menyahutlah! Pulanglah! Karena kita masih punya rumah! Pulanglah, karena ada 2 malaikat yang membuka lebar sayapnya untuk memeluk kita sejenak dari semua kepenatan dan menyirami kita dengan keberkahan. Pulanglah! Karena kita sangatlah berarti dan dirindukan oleh mereka! Pulanglah, karena sebenarnya semua orang tua tak pernah berhenti merindukan anak-anaknya
Aktif itu harus, tapi berbakti kepada orangtua itu wajib hukumnya lho ya!
Semangat para aktivis muda! Selamat berbakti kepada almamater dan orang tuamu!
Jangan lupa kabari mereka selalu dan doakan mereka. even though just a text, They would be very happy to know that You'r allright. Because for them, You are so precious more than everything! 

***Titip salam untuk Emak, untuk keluarga tercinta di rumah, dari seorang anak rantau di Jatinangor yang selalu merindu handai taulannya***

Kamis, 04 Agustus 2016

U-N-P-A-D (UNPAD Supporter Song)

U-N-P-A-D
Ciptaan: NN

U-N-P-A-D
U-N-P-A-D
Unpad, Unpad, Unpad, Unpad
Kita bersatu!


***Hallo guys, so that's Unpad glory song!
Singkat dan mudah dihafal, lagu ini biasanya dipake buat membakar semangat rakyat Unpad saat Unpad berlaga di banyak event dan moment. Digemakan dengan penuh semangat diiringi kepalan tangan dan hentakan kaki, lagu ini seakan bisa membusungkan dada kite kite warga Unpad dan ngerasa makin bangga sama Unpad dan nunjukan Unpadisme kita nih! So, jangan ngaku anak Unpad yeee kalo kaga hafal lagu itu!
Hallo Buddy, welcome to the jugle! Salam Satu Unpad!

U eN Pe A De
U eN Pe A De
Unpad, Unpad, Unpad, Unpad
Kita bersatu!

Kamis, 02 Juni 2016

Pemimpin Teguh yang Meneguhkan: Thariq bin Ziyad


Thariq bin Ziyad adalah seorang  komandan pasukan islam yang mengemban misi penakhlukan Daratan Spanyol, tepatnya di Andalusia, Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan ilmu bela diri. Senin, 3 Mei  711 M, Thariq membawa 12.000 pasukannya menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar. Lalu ia memerintahkan pasukannya membakar semua armada kapal yang mereka miliki.
Pasukannya kaget. Mereka bertanya, “Apa maksud Anda?” “Kalau kapal-kapal itu dibakar, bagaimana nanti kita bisa pulang?” tanya yang lain. Dengan pedang terhunus dan kalimat tegas, Thariq berkata, “Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa!”  Kini pasukannya paham. Mereka menyambut panggilan jihad Panglima Perang mereka itu dengan semangat berkobar.
Lalu Thariq melanjutkan briefingnya. “Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan.
Musuh dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan yang lengkap telah siap menyongsong kalian. Sementara senjata kalian hanyalah pedang. Kalian akan terbantu jika kalian berhasil merebut senjata dan perlengkapan musuh kalian. Karena itu, secepatnya kalian harus bisa melumpuhkan mereka. Sebab kalau tidak, kalian akan menemukan kesulitan besar. Itulah sebabnya kalian harus lebih dahulu menyerang mereka agar kekuatan mereka lumpuh. Dengan demikian semangat juang kita akan bangkit.
Untuk itu kelak kalian akan menikmati kesenangan hidup, disamping itu kalian juga memperoleh balasan pahala yang agung dari Allah swt. Hal itu karena kalian telah mau menegakkan kalimat-Nya dan membela agama-Nya. Percayalah, sesungguhnya Allah swt. adalah penolong utama kalian. Dengan demikian, negeri ini akan ada di bawah bendera Islam.”
Mendengar pasukan Thariq telah mendarat, Raja Roderick mempersiapkan 100.000 tentara dengan persenjataan lengkap. Ia memimpin langsung pasukannya itu. Dengan total pasukan Thariq hanya 12.000 orang dan semangat menggebu, akhirnya pasukan Thariq bin Ziyad berhasil memukul telak musuh, sehingga kemenangan berada ditangan pasukan Thariq bin Ziyad.
Sekilas cerita diatas adalah gambaran sosok seorang Thariq bin Ziyad, awal mula mendengar kisah ini ketika aku masih duduk dibangku menengah pertama, sungguh sebuag kisah yang unik, bagiku Thariq bin Ziyad adalah salah satu pemimpin yang eksentrik, bagaimana tidak, karena dia menyemangati pejuangnya dengan membakar perahu dan perbekalan mereka sendiri, dengan tujuan utamanya agar  para pejuang termotivasi untuk menang, ya untuk menang, itulah satu-satunya pilihan agar tidak mati ditangan musuh atau mati sia-sia menyeburkan diri ke laut sebagai pengecut.

Tentu hal utama yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah keteguhan hati untuk meneguhkan dan menginspirasi bawahan agar mau bahu membahu memaksimalkan potensi untuk mencapai tujuan bersama, dan hal itulah yang ada sempurna dalam diri Thariq bin Ziyad, beliau berhasil membangkitkan semangat pasukannya yang hanya berjumlah 12.000 orang hingga mereka berhasil menakhlukan musuh yang jumlahnya 100.000 orang. Keteguhan jiwa yang mampu meneguhkan dua belas ribu jiwa lainnya untuk melawan musuh, ya itulah Thariq bin Ziyad, seorang pemimpin yang teguh dalam jalan perjuangannya.

Sabtu, 23 April 2016

Memaksa Tuhan

Memohonlah dengan penuh ketulusan dan
kerendahan hati. Ingat, kita hanya seorang
hamba!
Jika seandainya Tuhan (read: Allah) ternyata tidak ada, maka apakah kamu akan tetap menyembah dan beribadah kepadaNya? Sebuah pertanyaan yang sempat mengusik lamunan beberapa waktu lalu. hm... kalau seandainya Tuhan tidak ada, bagaimana mungkin ada alam dunia seisinya? bagaimana mungkin ada makhluk seperti kita ini? tak mungkin kita tetiba ada tanpa ada pencipta. Ya nggak sih?! Logis kan?! ibadah memang merugikan? Seandainya Tuhan tidak ada pun tidak rugi kita ibadah, toh dari ibadah kita dapat banyak manfaat, ketenangan batin, kepuasan hati, kebahagiaan dan kekuatan spiritual. I think that!
Ok, aku mau bahas soal doa, karena doa adalah salah satu ibadah yang sering kita lakukan. mau apa-apa doa, lagi galau doa, lagi sedih doa, dan juga doa itu ibadah yang ritualnya paling simpel! Terus, ada apa dengan doa? Ya Allah, pokoknya aku mau UTS aku A semua nilainya! Ya Allah semoga Mama dan Papah selalu sehat, ya Allah semoga aku bisa pulang, dan lalalala... Kenapa ya kita berdoa? Doa menunjukan kelemahan tau! celetuk seorang teman yang atheis, hm... Tapi pada dasarnya memang sekuat apa sih manusia? Alaminya manusia butuh tempat untuk bergantung dan berbagi. nah, Tuhan adalah entitas immortal yang bisa dijadikan tempat bergantung. Manusia itu lemah sebenarnya, coba tes deh, diambil nikmatnya pasti jadi ngeluh dan sedih, disakiti pasti jadi sakit, dihancurkan ya bisa hancur juga, bahkan manusia punya batas toleransi sakit dimana ketika melebihi itu maka manusia bisa mati, ya mati! manusia memang lemah. nah tapi darimana manusia bisa bertahan dan menjadi lebih kuat? energi itu hal yang tak bisa dimusnahkan dan itulah yang menjadikan manusia kuat. ya energi dalam arti fisik dan mental. tapi siapa sih yang menciptakan energi? siapa lagi kalau bukan Tuhan! 
jadi, doa itu adalah wujud pengakuan dan merendahkan diri dihadapan Dzat yang Maha Sempurna. harusnya sih. tapi nggak jarang banyak dari kita berdoa namun juga memaksa Tuhan, kaya gini contohnya: "Ya Allah aku mau nilai aku A semua!" lho kok doanya maksa sama ngatur Tuhan? lha lu siapa emang?! merendahlah dihadapanNya selayaknya kita memohon lagi penuh harap, karena bahkan setiap kedip mata kita dan setiap detak jantung kita ada dalam kuasa dan aturan-Nya.
Semester lalu aku pernah do'a "Ya Allah pokoknya aku mau nilai Statistika aku minimalnya B! Ya Allah C juga gapapa deh yang penting nggak ngulang!" FYI: Statistika adalah mata kuliah yang dulu aku musuhi banget, karena isinya itungan semua! aku nggak suka ngitung dan nggak suka matematika pada dasarnya, makanya aku benci Statistika! karena itu, aku males belajarnya, jadi ya... nilai kuis sama uts ga bagus. Aku mulai gusar duh jangan-jangan nanti harus ngulang! dih males baget  gitu kan harus ngulang matkul yang paling nyusahin! akhirnya doa deh sama Allah "Ya Allah pokoknya aku mau nilai Statistika aku minimalnya B! Ya Allah C juga gapapa deh yang penting nggak ngulang!" nah tadaaa... setelah UAS, nilai diymumkan dan huft, nilainya mengharuskan aku ngulang matkul Statistika semester depan. nangis kejer deh, nyalahin Allah, merasa kalo Allah udah nggak sayang sama nggak lagi peduli sama aku, buktinya Allah nggak mengabulkan doa aku.
Akhirnya semester depannya aku mengulang statistika, yup sekelas sama adik tingkat. disana aku mulai membuka hati untuk Statistika, aku mau memperbaiki cara belajarku, alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan. Kebukti kok, kalau mau berusaha dan membuka hati, the difficult thing become easier. Nah semester ini ketemu sama banyak matkul yang ternyata butuh banget pengaplikasian statistika, pokoknya kalau nggak faham statistika ya kacau lah! nah aku kaget gitu, seakan Allah mengelus pelan dan bilang "Rina sayang, Allah suruh kamu ngulang supaya kamu lebih faham dan mau membuka hati dan fikiran untuk itu, jadi disemester selanjutnya kamu akan dapat melalui berbagai matkul yang membutuhkan pemahaman statistika dengan baik" Allah... sungguh kerdilnya aku! Allah, betapa kecilnya aku dihadapan-Mu.
Aku udah maksa Allah diawal, supaya Allah kasih nilai yang nggak usah aku ngulang, aku sudah takabur mengatur Allah, akhirnya Allah beri pelajaran yang begitu berharga dibalik ketidakterkabulan doa yang memaksa itu. Ya, alhamdulillah aku jadi lebih faham statistika dan jadi nggak statistik-fobia lagi. kan brabe kalo punya statistik-fobia, padahal mayoritas matkul di Psikologi membutuhkan apliksi dan pemahaman statistika, bahkan kalau nggak faham sama statistika nggak bisa lulus nanti, lha ngerjain skripsi sama penelitian pie toh? Aku juga kan yang rugi! coba kalo nggak ngulang, mungkin sampai sekarang aku masih nggak faham dan masih statistik-fobia. efeknya ya paling aku banyak nggak lulus matkul. naudzubillahimindzalik!
Poinnya, kita harus sadar posisi kita, tak jarang kita lupa bahwa kita hanya seorang hamba, seorang abdi, seorang makhluk yang tanpa daya! Tapi mintanya seakan kita tuan yang bisa mengatur semua sesuai kehendak kita. Ini reminder untuk aku sendiri juga yang masih sering khilaf. perlunya keikhlasan saat berdoa, kepasrahan dan pengharapan yang penuh keridhaan kepada-Nya, emang Tuhan itu kurang baik apa lagi sih? kita dikasih hidup, dikasih pelajaran, dikasih cinta, akal, nurani, badan yang lebih sering sehatnya, diberi kekuatan, rezeki, ah banyak banget! seandainya air laut jadi tinta untuk nulis segala nikmat-Nya, nggak bakal cukup juga!
jadi, memohonlah dengan penuh harap dan kerendahan hati, ingat, kita hanya seorang hamba!