Sabtu, 19 Januari 2019

Jangan Jadi Orang Tua yang Buruk!

"Nak, Ibu ingin kamu jadi dokter seperti ayahmu"
"Kamu harus jadi polisi seperti kakakmu!"
"Anak Mama akan tumbuh menjadi seorang arsitek!"
"Pokoknya kamu harus menjadi guru seperti Bapak!"
"Kamu harus jadi PNS supaya hidupmu terjamin!"
"Kamu pokoknya harus lolos tes di Universitas X, harus kuliah jurusan Y kaya anak teman Ayah"
.....

Dear Ibu & Ayah luar biasa di seluruh dunia, saya mengerti bahwa keinginan dan harapan kalian begitu kuat untuk melihat buah hati kalian sukses dan memiliki kehidupan yang mapan di masa depannya, karena dengan begitu kehidupan mereka kelak akan lebih baik bukan? Kalian mesti ingin buah hati kalian memiliki nasib dan kehidupan yang lebih baik dari kalian saat ini kan? Mesti itu yg ada dalam di pikiran tiap orang tua. Pasti.

Tapi bagaimanapun Bu, Yah, anak kalian bukan kaki tangan kalian, bukan boneka yang bisa kalian jadikan apapun sesuai keinginan kalian, mereka bukan seseorang yang harus memegang tanggung jawab untuk mencapai mimpi dan keinginan kalian, karena meskipun mereka lahir dari rahim kalian, dibesarkan dengan keringat dan cinta kalian, mereka bukanlah diri kalian, mereka tetap individu yang berbeda dari kalian. Anakmu bukan milikmu, seperti kata Khalil Gibran

Mereka berhak hidup bebas dan menemukan jalan kebahagiaan mereka sendiri. Jangan samakan standar kebahagiaan kalian dengan mereka, karena standar kebahagiaan tiap individu berbeda-beda. Kemapanan bukan satu-satunya penentu kebahagiaan hidup, materi tidak selalu menjamin bahwa hidup mereka akan baik2 saja, jadi biarkanlah mereka mekar menjadi bunga apa saja sesuai kehendak mereka dan sesuai dengan bakat potensi mereka. Karena kalian tahu Bu, Yah, semua bunga itu cantik dan punya pesonanya tersendiri.

Hati-hati salah kaprah dalam menunjukan kasih sayang kepada mereka. Menyayangi mereka bukan dengan cara membuat dan memaksa mereka menjadi seseorang yg kalian inginkan, dengan dalih bahwa kalian adalah  orang tua mereka dan orang tua mesti tahu apa yg terbaik untuk aanak-anaknya. Kalau begitu, jadinya siapa yang sesungguhnya ingin kalian bahagiakan? Diri kalian sendiri atau anak-anak?  Menyayangi yang sesungguhnya adalah dengan mendukung  dan memfasilitasi mereka untuk berkembang dijalan yang mereka tentukan. Bukankah tujuan tiap orang tua menghidupi anak2nya adalah untuk membuat mereka bahagia? Maka biarkan mereka bahagia dengan cara mereka sendiri. Fungsi orang tua adalah mengarahkan dan membimbing mereka agar mereka tetap di track yang benar, mendidik mereka untuk menjadi manusia yang beradab, berilmu, dan mencintai Tuhan-Nya, bukan untuk mendikte mereka menjadi A, B, X, atau Z.

Jika ortu Ronaldo memaksanya untuk menjadi seorang profesor sains, maka Ronaldo tidak akan menjadi pemain bola kawakan seperti sekarang, Jika ortu Mariah Carey memaksa ia untuk menjadi guru, maka tidak akan lahir Mariah Carey sang diva dunia, Jika ortu Soekarno menyuruh Soekarno menjadi pedagang, maka tidak akan lahir seorang tokoh bangsa & pembicara ulung macam dia. Bayangkan jika orang tua mereka memaksa mereka untuk menjadi orang lain, mereka mungkin tidak akan berhasil ataupun jika mereka berhasil memenuhi keinginan ortu mereka, mereka mungkin tidak akan bahagia, karena mereka hidup bukan utk menjadi diri mereka yg sesungguhnya, mereka juga mungkin tidak akan mampu mengaktualisasi dirinya.

Jika pun kalian berhasil menjadikan mereka A, B, atau C sesuai ambisi dan keinginan kalian sebagai orang tua, lantas untuk apa semua pencapaian itu jika pada akhirnya anak-anak kalian tidak bahagia dan tidak mampu menikmati hidup mereka? Mereka hanya akan tumbuh menua sambil menyalahkan diri mereka sendiri & menyalahkan kalian atas ketidakbahagiaan hidup mereka. Jika hasilnya seperti itu, maka apakah kalian bisa menyebut diri kalian orang tua yg baik & berhasil?

Yah, Bu... Ajarkan mereka mencintai dan mengenal diri mereka, menyadari kekuatan dan kelemahan mereka, dan cobalah memandang dunia dari sudut pandang mereka agar kalian paham seperti apa sebenernya mereka berpikir dan memahami dunia, sungguh anak-anak kalian adalah harta yang sangat berharga dan tak ternilai, mereka tak boleh disia-siakan, mereka unik, mereka istimewa, mereka mungkin berbeda dari kalian, tapi mereka memiliki keunggulannya tersendiri. Percayalah bahwa tiap anak memiliki bakat dan potensinya masing-masing, tidak ada si pemalas, si bodoh, si tolol, atau si payah, mereka semua cerdas dan hebat dalam bidangnya masing-masing, tapi mungkin kalian hanya belum menggali dan mengenali dimana sesungguhnya keunggulan dan potensi mereka.

Coba ubah kalimat "Nak pokoknya kamu harus jadi dokter seperti ayah! Kamu nanti harus masuk FK univ anu!" Dengan "Nak, kalau kamu mau, kamu bisa menjadi dokter seperti ayah, tapi kalau kamu tidak mau, kamu boleh menjadi apa saja asalkan kamu bahagia dan asal kamu yakin itu passion kamu, Ayah & Ibu akan tetap mendukung kamu" sejuk dihati bukan bukan mendengarnya?! Anak juga tidak akan merasa stres dan terbebani untuk menjadi X sesuai harapan orang tua, dan anak akan lebih mampu mengeksplor apa yang sebenarnya cocok dan menyenangkan bagi dirinya.

Dari sini sadar bukan, jika menjadi orang tua bukanlah suatu tugas yang mudah, nampak sederhana namun sebenarnya tidak. Anak adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, mereka seperti rotan, jika tidak dibentuk (read: dididik) maka mereka akan tumbuh liar, tapi jika dibengkokan dengan keras, mereka akan patah dan rusak. Perlu ilmu, ketelatenan dan kesabaran utk membentuk mereka.

Bu, Yah, tenang saja, memang tugas kalian tidaklah mudah, tapi janji-Nya bagi kalian yg berhasil melahirkan generasi emas, para mujahid/ah dijalan-Nya adalah surga. Sebuah ganjaran yg sangat setimpal. Tidak ada istilah orang tua senior atau newbie, semua orang tua pada dasarnya belajar setiap harinya untuk menjadi orang tua yang lebih baik. Jadi Yah, Bu, jangan menyerah! Ayo kita terus belajar! 

Harta yang paling berharga adalah keluarga


Dari seorang anak yang akan menjadi orang tua dan sedang belajar seni mendidik diri.

Terima kasih untuk Mama & Papah karena kalian telah menjadi orang tua yang baik untukku selama ini, yang selalu mendukung, mendoakan dan mencintaiku tanpa henti dan membiarkanku mekar dijalan yg kupilih. Semoga kita dapat berkumpul di surga.

Kamis, 07 Desember 2017

Let's Talk About Banana

Sebelum Negara Pisang Menyerang
Gue tidak berekspektasi punya sebuah peer group atau clique selama kuliah, gue fikir kuliah akan jadi individualis aja, terus nyadar diri juga karena emang gue rasa dengan karakter gue yang kaya gini gue ga bisa diterima sama banyak orang. Yap, gue nyeplos banget, ekstrovert banget, dan sering banget random dan malu-maluin. Gue juga sejujurnya saat semester 1 kehilangan kepercayaan diri gue parah sampe-sampe gue harus minta tolong psikolog di TPBK buat konselingin gue yang kacau banget. Intinya saat semester satu gue merasa hidup gue kacau karena ketidaksiapan gue menghadapi masa perkuliahan, selain memang basicly gue dari SMK, which is pembelajarannya jauh beda banget sama kuliahan. Dunia juga, Jatinangor gue rasa benar-benar menantang adrenalin dan mental gue sepertinya belum siap untuk hal itu. Semester satu gue cuma bisa sahabatan sama Sarah, karena Sarah adalah putri dari mentor gue dan anak psikopad pertama yang gue kenal saat maba. Disaat awal-awal kuliah gue masih pake hp jadul gitu, belum punya android dan belum punya line juga jadi gue mengandalkan Sarah yang udah duluan punya android dan line untuk ngasih tau gue segala informasi soal ospek dan perkuliahan, karena emang semua infonya ada disana.
Kita tiba-tiba setravel saat berangkat ke Jatinangor dan ternyata sama-sama bidik misi dan kamar kita di asrama itu tetanggaan. Sarah saat itu kaya masih malu-malu dan nggak banyak ngobrol, emang tipenya gitu kali ya batin gue saat pertama kenalan dan tatap muka, kok beda banget ya sama Umminya yang ramah dan lebih terbuka, which is Umminya udah gue kenal baik duluan karena beliau salah satu pembina rohis gitu di Banjar waktu gue masih SMK dan emang kebetulan gue ngejabat jadi salah satu petinggi rohis gitu di Banjar waktu itu. Gue beneran takut saat pertama kali ospek fakultas, bukan karena  seniornya galak-galak gitu, tapi pada intinya gue belum siap masuk kuliah, gue masih asyik kerja dan nggak siap berkutat lagi jadi siswa apalagi sekarang udah ada ‘maha’nya. Berangkat jam 5 pagi setiap hari dari asrama, jalan kaki turun ke gerbang lama Unpad tiap hari sama Sarah, Gita, Titik, sama Pepi terus dateng dibarisin dan dimarah-marahin. Uji mental sih emang ospek itu, tapi kita nggak akan diomelin kalo nggak berbuat salah dan ngikutin aturan, lagian gue juga pernah ikut OSIS, Paskibra, Pramuka, PMR waktu dulu jaman sekolah dan yang namanya dibentak atau dimarihin dan bahkan dapet hukuman fisik itu udah jadi hal yang biasa banget, gue udah nggak kaget lagi, malah ospek SMK gue aslinya 7X lebih berat dan menyeramkan dari ospek Fapsi lho!
Akhirnya gue dan Sarah jadi sobat yang nggak terpisahkan, sampai-sampai orang-orang sering manggil nama kami ketuker-tuker saking emang kemana-mana tuh ada Sarah ada Rina. Semester2 berlalu gue mengalami hal yang menyebalkan banget di asrama dengan salah satu tetangga kamar yang bener-bener bebal, dia berisik banget sampai subuh dan kamarnya nyetel musik keras-keras pake tape selama 24 jam nonstop, padahal gaya belajar dan tidur gue harus hening, ya mana bisa gue fokus belajar dan tidur nyenyak tiap hari kan. Terus gue udah mulai sibuk ikut beberapa organisasi dan kegiatan gitu jadi sering pulang malam dan itu menyeramkan banget, jalan menuju asrama itu kalo malam kaya jalan menuju hutan Aokigahara, sepi, gelap, angker katanya tapi gue bodo amat, dan pernah ada kejadian pembegalan gitu. Atas dasar itu ortu gue menyuruh gue nge-kost aja di daerah yang lebih deket dari  kampus dan nggak serem –serem  amat kalo gue pulang malam. So finally semester 2 gue ngekost dan akhirnya harus misah sama Sarah karena nggak berangkat dan pulang bareng lagi sekarang terus beda kegiatan juga kita. Dari sana gue dan Sarah memutuskan untuk renggang, bukan karena ada konflik serius (biasanya kalo kita berantem sejam kemudian kita udah akur lagi karena emang kita bukan tipe yang saling baper satu sama lain kalo beda pandangan) tapi karena emang udah susah sering barengan lagi dengan kesibukan dan tempat tinggal kita yang beda. But still Sarah adalah satu-satunya orang yang bisa gue panggil “sahabat” saat itu.
Semester 3 kita dapet tugas Antropologi, bikin drama gitu, kelompoknya bebas dan gue paling males, karena kelompok bebas itu menyusahkan bagi gue yang nggak punya peer group. Hal itu kayaknya dialami juga sama bebapa orang lain, Cicih,  Bagus dan Ori salah satunya. Kami juga sering banget duduk deketan, lebih tepatnya emang tempat ternyaman kami buat ngelamun dan tidur eh... maksudnya buat merhatiin perkuliahan itu deketan, Bagus ada di baris terdepan paling kiri, Ori tepat dibelakangnya terus gue, Sarah, sama Cicih tepat disamping Ori. Dari sana kita akhirnya sepakat buat banyak sekelompok di banyak matkul lain, alasannya Cuma karena kita nggak punya peers dan kita duduk deketan, biar nggak usah ribet nyari kelompok lari-lari sana sini meminta gabung sama orang lain. Balik lagi ke Antrop, kita akhirnya memilih kebudayaan Jepang-Jawa untuk mementaskan drama, dan ternyata secara kebetulan gue, Bagus, dan Ori punya background pernah main teater pas jaman sekolah, jadi emang nggak susah dalam bikin drama. Sarah dan Cicih yang nggak suka-suka banget sama drama juga akhirnya ngikut aja dan kooperatif ngewujudin drama terbaik di Antrop. Disana kita latian seminggu 3X di kosan Ori dan belakang asrama Pedca tiap sore, drama kita judulnya Asmaradana, dimana Cicih berperan jadi nyi roro kidul (asli ini mah! Wkwkwk), gue jadi pemilik sanggar tari yang penyembah Nyi Roro Kidul, Ori jadi anak gue, Sarah jadi murid tari  kesayangan gue, dan Bagus jadi orang Jepang yang ceritanya pacaran sama Ori. Semacam drama musical dan mistis gitu, dan gue Cuma mau minta maaf sama Bagus karena Bagus muncul Cuma di scene 3 saat pacaran, sama discene 6 dan itupun gue bunuh ahahaha... intinya Bagus tampil untuk mati doang, eksistensinya seperti Cuma numpang lewat doang di drama kami, tapi dibalik layar dia begitu banyak membantu. Gue mau memuji Ori, Cicih sama Sarah yang actingnya gila keren banget, diluar ekspektasi karena pas latihan nggak se-wow itu. Dan well done, Alhamdulillah drama kita jadi drama terbaik dan dapet apresiasi luar biasa dari dosen dan temen-temen di kelas saat  pementasan. Yeay!
Dari sana kita jadi lebih sering diskusi dan barengan sekolompok. Awalnya Cuma diskusi topik ringan dan soal matkul aja, tapi lama-lama jadi ada forum-forum martabak dan poker. Entah kenapa gue mulai merasa nyaman dan secure sama mereka, gue mulai terbuka tentang diri gue sama mereka, pun mereka ke gue. Akhirnya emang kita deket dan grup chat antrop berubah menjadi grup chat untuk saling membully dan saling menertawakan satu sama lain, lalu entah kenapa gue terinsight untuk menamai grup itu dengan “Banana Talking” karena emang obrolan kita gaje dan Cuma untuk hepi-hepi aja. Kita semua bukan orang normal, terutama di angkatan. Aslinya. Karena emang kita punya keunikan sendiri-sendiri yang nonjol banget dan nggak semua orang bisa nerima akan hal itu. Ya emang sih mungkin kenapa kita cocok karena kita sama-sama aneh, sama-sama unik dan out of the box. Kaya Ori si alay ambis yang independent banget, Bagus yang super duper ilmiah, nggak bisa didebat kalo nggak ahli dan menjalani hidupnya dengan sekehendak dia,  Sarah yang indepent dan kadang nggak bisa difahami jalan pikirannya dan random juga tingkah lakunya, dan Cicih si manusia penyendiri yang ahli banget dalam ngilang, si fikiran gila dan alay. Gue? Gue juga sama indepentnya dan ekstrover banget, nyeleneh, gatau malu dan random banget. Ya ini salah satu uniknya peer kita karena pada dasarnya kita semua adalah orang-orang indepent dan karena keindependent-an kita itu lah kita bersama dan bisa cocok saling faham satu sama lain. Kita nggak menggantungkan diri kita ke peers kita tapi menjadikan peers kita tempat untuk berbagi. Terutama berbagi bahan bully.
Right to Left: Bagus Wahyu Jatmiko, Oriana Vibrin Aprilia, Sarah Fadhilah, Cicih Ningsih, Rina Parliya

Negara Pisang Menyerang, Perang Dimulai!
Kalau mau tahu persfektif dan pemaknaan gue tentang Banana Talking, oke mari kita mulai. Karena negara api eh maksud gue negara pisang sudah terlanjur menyerang.
Sejujurnya, gue merasa bahwa gue nggak akan bisa survive dengan baik di perkuliahan, dan gue merasa kesepian. Iya, walaupun gue independen tapi nggak berarti gue nggak butuh teman. Ah gue tahu dan kalian juga tahu seberapa rapuhnya gue,  tapi gue sangat tidak suka menampakkan kerapuhan gue didepan orang lain, ya intinya iya emang gue sok kuat. Gue memasuki tahap loss and sink dan gue merasa  gue mau keluar aja dari fapsi, saking emang gue nggak kuatnya, almost surrender with my life lah intinya.  Tiap hari gue bangun dan gue bingung apa yang mau gue lakukan nanti di kampus, dan gue do’a semoga gue bisa dapet sahabat yang bisa menyamankan gue, saat itu gue sedih karena gue renggang dengan Sarah dan gue nggak punya sahabat lain yang nyaman untuk berbagi dan terutama YANG MAU MENERIMA GUE APA ADANYA. I didn’t enjoy
Terus kalian memasuki babak baru kehidupan gue, dan tiba2 4 makhluk aneh dari planet Apeneus  diluar galaksi milky way datang menyerang dan mulai menghidupkan kembali kehidupan gue. Seandainya mereka tahu setiap ketawa mereka saat ngetawain lelucon gue ataupun ngetawain gue sendiri adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untuk gue. Eh tapi gue nggak masocict ya enak aja! Iya mungkin kalo secara melankolis dapat dikatakan kalau gue sangat bahagia saat mereka tertawa bahagia juga. Gue memang selalu punya keinginan dalam hati kecil gue untuk make the world better place and bring happiness to all people in the world, ini serius jadi jangan dibilang alay ya! Gue nggak suka menyakiti orang lain dan selalu ingin menjaga perasaan orang lain, tapi gue benci dan bisa berbuat diluar dugaan saat ada orang lain yang menghancurkan kebahagiaan orang-orang disekitar gue yang gue sayang, gue nggak bisa diam liat ketidakadilan, apalagi kalo itu terjadi ke orang yang berharga bagi gue. Enggak tahu mungkin Papah mengajarkan nilai-nilai altruisme dan keadilan dengan cukup baik kali ya.
Gue merasa hancur juga saat mereka hancur. Gue kesel saat Cicih ada masalah lalu ilang, gue gak tahu dia dimana dan gue gak bisa berbuat apa-apa untuk dia, even Cuma nyediain bahu gue untuk dia bersandar dan nangis ngeluarin semua uneg-unegnya. Gue kesel saat Sarah nggak cerita kalo dia lagi ada kesusahan jadi dia harus melalui masa sulitnya sendiri sedangkan gue nggak tahu apapun dan bisa menjalani hidup fine-fine aja tanpa sadar disana sahabat gue lagi kesusahan. Gue kesel saat Ori terus-terusan galau sama kisah cintanya dan gue ga bisa berbuat apapun dan gabisa kasih bantuan apapun sama dia, gue kesel saat Bagus harus merasakan patah hati dan hancurnya ditinggalin orang yang dicintai sama seperti yang gue rasakan baru-baru ini, gua faham betul rasa sakitnya, dan lagi-lagi gue merasa nggak berguna untuk dia karena nggak berbuat apapun untuk dia. Lebih hancur lagi saat mereka ikutan sedih pas gue sedih juga, karena nggak seharusnya gue menyusahkan mereka, dan semakin hancur saat gue tahu bahwa gue nggak bisa menyimpan kesedihan gue sendiri dan lagi-lagi selalu mereka yang gue turut libatkan. Gue ingin menjadi orang yang berguna buat mereka, even Cuma sekedar buat mereka ketawa lepasin sekejap kejenuhan dan semua masalahnya. Gue tak menemukan alasan kenapa gue menjadi sebaik dan sealtruism ini ke mereka,  tapi yang jelas gue mau berterimakasih karena gue menemukan makna keberadaan gue berada disini, gue menemukan alasan untuk survive as well as I can fight.  Ini mungkin terdengar alay dan agak melankolis, tapi I swear that’s all perfectly honest and true, from my deepest heart.
Gue selalu menjadi orang yang ga begitu menyenangkan dan bahkan kadang semaunya sendiri, tapi mereka selalu tetap disamping gue meski mungkin harus menebalkan muka menahan malu atas kelakuan gue yang random dan nyeleneh selama ini. tapi gue nggak mau berhenti untuk menjadi random dan nyeleneh karena memang itulah gue dan mereka lagi-lagi nggak sekalipun mempermasalahkan hal itu dan tetap menjadi sahabat baik untuk si nyeleneh tak tahu malu ini. pun gue sendiri merasa nyaman dengan semua weird and freaky thing dari mereka semua, gue bahagia karena mereka bisa menjadi dirinya sendiri. Satu lagi yang selalu dan akan gue rindukan dari mereka, yep mereka selalu punya martabak keju coklat dan pocker 7 babak untuk merayakan keberhasilan gue ataupun menghibur kesedihan gue. Efektifitas forum poker martabak itu gue rasa cukup berhasil mengcoping stres gue selama ini. Pun forum bakso mie ayam di kantin Geo saat makan siang, dari sana selalu muncul banyak diskusi tentang masa depan, nah mungkin harus diteliti nih jangan-jangan bakso berkorelasi sama perencanaan masa depan pada dewasa awal macam kita, wkwkwkwk. Thanks banget buat mereka karena mereka selalu bisa memaklumi keabsenan gue bahkan dititipi absen sama gue hahaha, selama kerja kelompok gak jarang gue gak memeberi kontribusi dan mereka selalu bisa membackup kesibukan gue. Saat lomba mereka adalah orang-orang pertama yang paling keras tepuk tangannya dan paling menyemangati gue. Intinya worth it banget punya mereka selama ini.
Semua kisah tragis dan penuh tangis dimasa lalu masing-masing akan selalu bisa ditertawakan bersama pada akhirnya, semua kisah patah hati dan kesedihan nasib para pencari jodoh juga akan selalu bisa dijadikan lelucon pada akhirnya. Intinya mereka membuat hidup gue lebih banyak tertawa dan bermakna. Bahwa gue hidup di Jatinangor ini untuk mencari makna, mungkin sekarang gue sudah menemukan maknanya, dan gue nggak bisa pungkiri bahwa mereka berjasa dalam pencarian makna hidup gue. Gue selalu terharu sama Ori yang nggak sekalipun menyinggung soal agama kita yang beda dan bahkan jadi salah satu pengingat gue untuk lebih melibatkan Allah dalam tiap langkah gue. Gue selalu kagum juga sama Bagus yang biarpun dia sekuler tapi dia nggak pernah tinggal shalat, sangat menghargai prinsip religius kami dan sangat menghargai gue, Sarah, dan Cicih yang nggak touch sama cowok. Pun Cicih dan Sarah yang sedikit banyak menjadi pengingat gue saat iman gue lagi futur dan gue mulai renggang sama Allah. Hal itu membuat gue sangat kagum sama cara Allah nyatuin kita ber-5. Bahwa dari sana gue belajar saling mengasihi dan membantu, ya pada intinya belajar jadi hamba-Nya yang lebih baik. Dari kalian gue percaya bahwasannya humanity is bigger than religion, but religion is a way to become a pure human. God always be with yaaa gengs!

Negara Banana Menang, Perang Segera Usai!
Februari besok mungkin Ori bakal lulus duluan, dan gue selalu bilang “jangan cepet-cepet lulus lu, ngambis banget deh! Capek gue liat lu Ri! Piknik kek lu, skripsian mulu!” tapi sejujurnya dalam hati gue bilang “cepetan lulus lu, biar nggak capek lagi kuliah karena gue juga capek liat perjuangan lu selama ini, jangan stres lu, kalo lu jenuh lu bisa ajak gue kemanapun dan ngaapain aja kok. Sana lulus biar cepet kerja, cepet kaya lu dan nggak pusing lagi mikirin ini itu! Sana bahagia!” atau selalu bilang ke Bagus “Hahaha kita nggak mungkin S2 ya karena mau kerja, hahaha gak bimbingan berapa lama lu?” tapi sebenernya dalam hati gue bilang “Sana lulus Gus, cepet dapet kerja biar bisa bahagiain Ibu, Mbak Ila & Fira! Terus habis itu S2 dan jadi peneliti sana, kejar passion lu! Cepet bahagia lu!”. Lalu saat gue menyindir Sarah “Dasar manusia sekre! Sekalian aja bawa kosannya ke sekre!” tapi sebenernya dalam hati gue Cuma mau bilang “Sar, jaga kesehatan, jangan capek-capek lagi ngurus begituan, tidur dan makan yang bener! ayo kita perbaiki nilai dan cepet lulus!”. Dan saat gue mengumpat ke Cicih “Lu apa-apaan susah dihubungi! Kemana aja lu?! Ilang aja kerjaannya!” sebenernya gue Cuma mau mengatakan sama dia “Cih, kalo ada masalah dan lu butuh bantuan, bilang-bilang dong, siapa tau gue bisa bantuin. Jangan sendirian terus sedihnya, karena lu punya gue! Gue mau banget bantuin lu” iya sekali lagi ini terdengar lebay tapi inilah kejujuran hati gue.

Intinya makasih buat Banan talking buat semua momen yang tak terlupakan ini, makasih ya udah jadi sahabat-sahabat yang ngebacotin gue untuk maju mengejar cita-cita gue, yang selalu ada dalam semua kondisi in hidup gue selama ini, in better or worst. Nanti kalau mereka udah sukses gue harap masih akan ada forum bakso dan forum martabak poker 7 babak lagi. Siapapun gue dimasa depan, mereka tetap sahabat gue, karena apalah artinya gue tanpa mereka. gue selalu berharap mereka menemukan kebahagiaan di masa depan, karena I swear mereka pantas untuk sukses dan bahagia. See you Banana! I give them my world and then they made my world.

Catatan Akhir Kuliah

Aku tidak begitu ingat tepatnya tanggal berapa hari itu aku pertama kali kali datang ke Fapsi, tapi yang jelas itu adalah hal paling berkesan, menginjakan kaki pertama kali di Fapsi, disambut dengan penuh antusias oleh kakak-kakak senior yang jadi panitia PMB, dan bertemu untuk kali pertama dengan 146 manusia-manusia super unik, dari berbagai daerah, manusia-manusia yang tak kusangka akan menjadi bagian signifikan dalam hidupku setidaknya untuk tiga setengah tahun terakhir ini. oramg-orang yang senyum dan kekonyolankan akan kurindukan, orang-orang dengan pelukan ternyaman dan rangkulan terringan yang membantu banyak untuk aku bisa survive dengan bak disini, karena seperti yang kalian tahu Jatinangor tak  begitu bersahabat dengan semua debunya, teriknya, tingkat kejahatan, jauh dari pusat kota dan segala kejenuhannya.
Qadarullah, Allah memberi rezeki tak disangka untuk aku bisa kuliah disini, dijurusan yang lebih sering dianggap sebagai jurusan perdukunan oleh orang awam, iya bagaimana tidak, karena tiap memperkenalkan diri dariPsikologi pasti disuruhnya “Tolong baca fikiranku, tolong lihat garis tanganku, eh golongan darah ku A lho menurut kamu aku orangnya gimana?” Dan pertanyaan lain sejenis itu. Dulu tak sedikit pun terpintas bisa kuliah di Unpad, karena melihat kondisi ekonomi keluarga yang tak seberuntung yang lain. Bahkan pasca UN pun aku sudah bekerja menjadi bagian dari Customer Service di salah satu perusahaan retail ternama di Banjar dan sedang melamar pekerjaan ke salah satu perusahaan IT. Sekolah pun aku lulus dari SMK jurusan Tekhnik Informatika, dan alasan masuk SMK pun karena aku tak begitu yakin aku bisa melanjutkan pendidikan lagi setelahnya walaupun sebersemangat dan semau itu aku untuk dapat mengenyam pendidikan di bangku kuliah biar suatu saat dapat foto pakai toga dan ada gelar dibelakang nama, biar bisa jadi orang yang berilmu. Keluarga besar juga berharap banyak akhirnya setelah aku diterima di Unpad, alhamdulillah SNMPTN lolos dengan daftar modal bissmillah saja, berbekal beberapa piagam juara olimpiade bahasa, lomba kompetisi siswa saat SMK dan catatan keterangan ranking pararel. Tidak, sebenarnya aku tidak begitu pintar, hanya aku rasa aku memang mencoba mengerjakan semua tugas dan mengambil banyak kesempatan mengikuti lomba dengan sebaik mungkin dulu saat SMK.

Unpad memberi banyak harapan untuk perbaikan masa depan keluarga, dan entah kenapa tapi ini serius, tiap kali ku dengar dan kunyanyikan hymne Unpad, selalu ada perasaan merinding dan haru, bahkan hingga kini ketika 7 semester sudah aku menjadi anak kandung Unpad. Iya secinta itu aku dengan Unpad, sebangga itu aku bisa kuliah disini. Pun Fapsi. Sebangga itu aku menjadi bagian dari Fakultas yang sudah berdiri sejak 2 September 56 tahun lalu. 2014 menjadi tahun yang paling berkesan karena aku bisa menjadi bagian dari Fapsi angkatan 2014. Keluarga yang begitu hangat dan akan kurindukan.
Aku mengakui bahwa diriku memiliki banyak sekali kekurangan yang menonjol, aku bukan pribadi yang menyenangkan bagi sebagian orang, oleh karena itu aku tak berharap banyak akan diterima dengan baik oleh teman-teman angkatanku. Ini serius. Aku hanya punya 1 sahabat baik yang aku kenal kerena ibunya adalah mentorku dulu saat SMK. Iya itulah Sarah, oleh karena itu aku semerekat itu dengan Sarah sampai-sampai dulu orang sering tertukar memanggil nama kami. Aku merasa insecure dengan banyak orang dan kehilangan kepercayaan diriku, padahal waktu SMK aku adalah pribadi yang amat periang dan terbuka. Tapi tak disangka, mereka menyambut baik  aku dan walaupun mungkin mereka merasa kurang berkenan denganku setidaknya mereka tetap menghargaiku, tidak sekalipun memusuhi atau mengasingkanku dan tetap memberikan bantuan saat aku berada dalam kesulitan. Mereka tetap memberikan senyuman dan menjawab sapaanku, mereka tetap berusaha mendengarkanku dan bahkan mencoba mempercayaiku. Jadi, terimakasih karena telah memperlakukan aku sebagai manusia yang layak hidup bahagia selama ini teman-teman.
Karena karakterku yang terlalu extrovert dan nyeleneh, tak banyak orang mau bersahabat dekat denganku, aku faham dan aku menerimanya karena aku sadar betul bahwa memang karakterku ini memang tak dapat cocok dengan karakter teman-temanku yang lembut dan amat santun, berbeda denganku yang begitu ekspresif dan nyeplos. Tapi semua orang mencoba untuk profesional saat bekerja sama denganku, dan seandainya kalian tahu sebahagia apa aku saat salah satu diantara kalian mengajakku bergabung kedalam kelompok saat ada pembagian tugas kelompok. Kalian juga mungkin tak tahu sebahagia aku saat aku mengikuti lomba kata-kata “Semangat Rin, kamu pasti bisa!” yang kalian berikan dapat membakar semangatku, iya aku tahu alasan kenapa aku harus berjuang. Kalian juga mungkin tak tahu saat kalian mengapresiasiku baik aku kalah ataupun menang amat membuat perasaanku nyaman. Kalian tahu, saat hari ulang tahunku terasa biasa saja karena tak ada kejutan kue atau apapun itu, ucapan “HBD Rina, WYATB” dari kalian membuat hari itu menjadi lebih spesial. Aku merasa diriku lebih berharga dan dapat dipercaya, itulah salah satu hal yang membuatku dapat bertahan dan terus mencintai diriku sendiri dengan apa adanya. Kalian mungkin tak sadar, kata “Semangat Rina!” yang dengan mudah kalian ucapkan kepadaku saat kita berpapasan sebenarnya memberikan sebuah energi positif bagiku, aku merasa keberadaanku diantara kalian diakui dan aku merasa aku dipedulikan. Itu yang tak kutemukan dimanapun selain disini, teman-teman, and Im gonna missing it, now and maybe forever. Semoga aku tidak kalian lupakan begitu saja setelah ini karena bagiku kalian sudah memiliki ruang tersendiri dalam hidupku.


Semua perjuangan, tangis, lelah, luka, dan suka cita kini hanya akan menjadi kenangan. Kelas sudah berakhir sejak 6 Desember kemarin meninggalkan jejak permanen yang membekas dalam hatiku. Kepada teman-temanku Psikopad’14, sejak awal aku tahu keluarga kita tak akan mendapati jalan yang mulus dalam perjalanan kita, dan memang benar kenyataannya. Kita sudah melewati itu bersama-sama sejauh ini dan karena genggaman tangan kalian lah aku menjadi kuat berdiri lebih lama hingga saat ini. perjuangan saat masa-masa menjadi mahasiswa baru, menyukseskan Little Project Monster Party kita dulu, kemudian memberi bimbingan pada adik-adik kita, menjadi bermakna dengan jalan kita masing-masing, entah dimanapun kalian mewakafkan diri kalian hingga sekarang masuklah pada tahap dimana kita mulai mencari benang merah dari hidup kita masing-masing. Prosesnya sudah hampir berakhir, tinggal selangkah lagi kita dapat menambah gelar dibelakang nama kita, tapi ingatlah dibalik gelar S.Psi itu ada 146 teman-teman yang membersamai perjuangan kita untuk meraihnya.
Tiga puluh atau empat puluh tahun lagi mungkin aku akan menceritakan ini pada cucuku, iya bahwa aku memiliki sebuah keluarga luar biasa yang bernama Psikopad’14. Aku akan menyimpan daftar nama lengkap, NPM dan foto kalian, takut suatu saat aku mulai lupa nama lengkap dan wajah kalian kerena kita akan menua dan memiliki urusan hidup masing-masing, padahal aku tak ingin melupakan kalian. Aku ingin meng-add semua akun Line dan memfollow Instagram kalian jadi aku setidaknya bisa tahu keadaan kalian atau sekedar menyapa kalian dengan like dan commentku saat nanti kita sudah berpisah. Tolong jangan lupakan aku, setidaknya biarkan aku tetap hidup dalam kenangan masa kuliah S1 kalian ya, teman-temanku. Maafkan atas banyaknya kesalahanku dan ketidakdewasaanku selama ini. sampai jumpa di masa-masa saat kita sudah menemukan siapa kita sebenarnya. Tolong ingat aku ya, si Rina yang bajunya hampir semua ungu dam maniak banget sama warna ungu, yang nama lengkapnya Rina Parliya, NPMnya 076, si biang keanehan, si cerewet, si tukang nyeplos, si tukang debat, si suara toa, si nggak bisa diem, si sok sibuk, si nggak fashionable,  si nggak tahu malu, si tukang malu-maluin, dan apapun itu tentang aku yang dapat kalian kenang. Terimakasih karena telah mengizinkan aku menjadi bagian dari kalian, terimakasih telah menjadi keluarga yang menyenangkan. Sampai jumpa Psikopad’14! Semoga sukses!

Kamis, 30 November 2017

Before Dawn

Saat kereta itu mulai meringik bergerak perlahan, lalu berlari meneriaki rembulan dengan suara lolongannya yang tajam, terus melesat membelah malam yang kesepian. aku tahu kau diluar statsiun juga berlari mengejar kereta ini, dan aku cuma duduk menatapmu nanar dari jendela sambil melambaikan tangan dan menyumbang senyum pilu. Kamu tetap keukeuh berlari, memaksa kakimu bergerak mencapai kereta itu. Tapi secepat apapun kakimu berlari, kereta itu nampaknya tak memiliki niat untuk berhenti untuk sekedar mengizinkan kita saling bertukar kata perpisahan. setelah itu kamu benar-benar menghilang dari pandanganku, tersamarkan malam. Yang nampak cuma rel panjang yang berkilau oleh cahaya rembulan. Begitulah kereta ini terus berlari membawaku, menyusuri ladang-ladang jagung yang muram, menenggelamkan aku dalam perjalanan panjang menuju kota kelahiran Salomon dengan semua kilaunya yang membutakan dan melupakan. itu sudah berlalu berapa tahun? empat atau lima tahun? Tapi rasanya seperti baru saja malam kemarin. Malam ini aku tiba-tiba mengingatmu Adam, mengingatmu penuh luka namun tanpa air mata. Seperti rindu yang membiru itu berkorelasi dengan rasa perih yang sudah biasa kutoleransi. Hingga akhirnya aku tak mampu membedakan warna cerah  bahagia dengan warna muram kepedihan. Semuanya terasa sama. aku sudah mati rasa merindumu tapi sialnya aku belum juga bisa berhenti mencintaimu.

Hujan turun lagi sore ini, setelah pertemuan dengan editor aku pun memutuskan untuk membawa semua pekerjaan ke rumah. Malam ini aku tidak mau mati kedinginan sembari bekerja di kantor karena aku tidak yakin pemanas ruangannya sudah berfungsi lagi. Setelah berpamitan kepada Ellen dan Tuan Hermes, aku pun bergegas menuruni tangga. 
Ah aku melupakan payungku lagi nampaknya pagi ini sebelum berangkat. Aku masih sama cerobohnya seperti dulu Adam, tapi dulu ketika kita bersama aku tahu kau akan selalu berdiri di depan gerbang dengan payung birumu, kemudian kita berjalan berangkulan menembus hujan melewati Bringsworth Alley sambil menertawakan anak-anak pemilik toko roti bermain air dibawah derasnya hujan. Sekarang aku harus menunggu hujannya reda atau berlari sendiri menerobos hujan dengan resiko terkena pilek lagi setelahnya.
Oh bahkan hal sekecil ini pun membuatku merindukanmu, Adam.

"Tidak bawa payung lagi, huh?" tanya Luke yang entah sejak kapan sudah berdiri seperempat meter disampingku.
Aku hanya tersenyum kecut. 
"Mau pakai ini?" dia menyodorkan payung hitamnya padaku.
"Oh, tidak usah terima kasih, bukankah kau juga akan pakai itu untuk pulang?" 
"Aku punya ini, tidak usah khawatir!" dia menyodorkan payungnya ke tanganku dan kemudian dia memayungi dirinya dengan jubahnya lalu berlalu begitu saja dalam hujan.
"Tidak! Luke, tunggu!" teriakku sia-sia karena dia sudah lari semakin jauh menembus hujan.
Selalu saja seperti itu. tiba-tiba aku membenci diriku yang amat teledor ini.
(Dalam "Before Dawn" oleh Kinoy Sora, 2017)

Selasa, 29 November 2016

Ketika 24 Jam Masih Belum Cukup


Beberapa waktu lalu sempat terlontar keluhanku kepada sahabat segeng, “Duh, rasanya lelah banget banget nih gue, di kosan Cuma numpang tidur sekejap sama mandi doang, masa tiap hari ga lebih dari 6 jam gue ada di kosan. Pulang tengah malem, berangkat pagi buta. Gue kayaknya butuh lebih dari 24 sehari buat ngejalanin semua aktivitas gue” celetukku ditengah kerja kelompok membuat makalah salah satu matkul. “Hm Rin, emang segitu padetnya ya aktivitas lu? Awas ah jaga kesehatan, perbaiki lagi hayo time managementnya!” saran seorang sahabat.


Setelah difikirkan kembali, betapa nistanya diri ini, Allah memberikan 24 jam sudah sangat proporsional, disesuaikan dengan kapasitas diri kita dalam beraktivitas. Bahkan idealnya pembagian 24 jam waktu itu adalah 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi dan ibadah. Tapi manusianya saja yang bisa jadi selalu merasa kurang karena menuruti hawa nafsunya. So me, bukan waktunya yang kurang, tapi kitanya yang bisa jadi tidak bisa memanfaatkan dengan baik, kita bisa jadi yang memang terlalu serakah dengan hal-hal keduniaan sehingga waktu 24 dalam sehari, 7 hari dalam seminggu itu dirasa masih belum bisa memenuhi semua hasrat dan keinginan kita untuk mengejar banyak hal.

Banyak orang menyangka, menjadi mahasiswa yang sibuk dengan segudang aktivitas itu keren, berarti produktif dan hits banget ya, keren dia punya skill yang dibutuhkan di banyak area kegiatan sosial mahasiswa. Iya. Memang. Tapi yang keren itu nggak Cuma mereka yang sibuk dengan seabrek kegiatan, sampe-sampe rasanya dimana-mana kalo ketemu sama dia, kerjaannya lagi rapat mulu. Yang lebih keren itu dia yang tau kapasitas dirinya sampai mana dan kebutuhan dirinya seperti apa aja, jika dengan 1 atau 2 kegiatan luar aja udah cukup memenuhi kebutuhan, kenapa harus ribet ikut perpuluh-puluh kegiatan?! Apalagi kalo niat ikutan kegiatannya cuma buat keren-kerenan doang, nggak lah ya! Ingat lho ya tubuh punya hak untuk istirahat yang cukup dan berkualitas. Ini pesan terkhusus buat diriku sebenernya.

Mengetahui kapasitas diri itu perlu, supaya nggak kedodoran dan kewalahan sendiri ngatur waktu. Mengetahui hal apa aja yang bisa dikembangin dan diasah dalam diri juga penting, biar bisa memaksimalkan potensi diri dan jadi manusia yang bermanfaat, tapi dibalik itu semua, ga kalah penting untuk menunaikan semua kewajiban kita dulu. Jangan sampai yang sunnahnya dilakonin tapi yang wajib terabaikan. Kaya misal, tujuan utama kuliah apa? Ibadah sambil belajar kan ya, ini tuh malah sibuk banget kegiatan non-akademik sampe ibadah dan belajarnya (akademiknya) terlalaikan.

“gunakan kesempatan yang masih diberi, semoga kita takkan menyesal... Masa usia kita, jangan disiakan, karena ia takkan kembali... Ingat 5 perkara, sebelum 5 perkara, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, hidup sebelum mati”  jadi inget kutipan hadis Rasul yang disenandungkan dalam nasyid “Demi Masa” oleh Raihan yang juga sempat aku senandungkan dulu saat perayaan maulid nabi di madrasah diniyah. “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, melainkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, yang nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran” (QS Al-Ashr: 1-3).

Memang benar, ada banyak hal yang bisa kita capai dalam hidup kita, ada banyak visi dan mimpi yang memacu kita untuk  terus berjuang dalam upaya mencapainya. Selalu ada alasan "mumpung masih muda! mumpung masih jadi mahasiswa!" tapi tak sedikit yang memaknakan kata ini untuk mereka melakukan apapun yang mereka mau, terlepas dari worth it atau nggaknya apa yang mereka lakukan. Kenapa harus worth it? oh God! your past never back!  so, mari melakukan yang terbaik! mari menjaga diri kita dari ketidakbermanfaatan! jadi aktivis yang zuperbussy itu pilihan kita, jadi mahasiswa yang kupu-kupu juga pilihan kita, jadi mahasiswa yang ngejar prestasi segudang tentu pilihan kita juga, tapi kita nggak punya pilihan dan nggak bisa nawar-nawar lagi untuk waktu yang Allah kasih untuk kita, 24 hours per day and 7 days per week, 4 weeks per month and 12 month per year! jadi, silakan puter otak buat cari cara cerdas untuk memanfaatkan waktu, gimana caranya supaya itu waktu bisa dibikin produktif, seimbang antara kewajiban utama sebagai manusia, absolutely ibadah kepada Allah, dan semuamuanya kegiatan dan rutinitas kita.   


Seberapa cerdasnya pun seorang ilmuan, tapi ia takkan mampu mengembalikan waktu yang telah berlalu, meskipun hanya 1 detik saja. Seberapa kayanya pun kita, takkan mampu kita membeli waktu yang telah berlalu, meskipun hanya 1 detik saja. Maka dari itu, aku menulis ini sebagai refleksi diri untuk bisa mengatur waktu dengan baik, tidak mengabaikan hak-hak Allah dan hak-hak diri atas waktu yang diberi selama 24 jam dalam sehari. Mari mengoreksi diri atas waktu-waktu yang telah berlalu, sudahkah digunakan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan diri dengan penjemputan-Nya yang pasti terjadi?! Ashtagfirullahaladzim, alladzi laa illahaillhuwalhayyul qayyum waatubuilaik.

Senin, 21 November 2016

Menerima Masalalu

Jika ditanya, hal apa yang paling sulit untuk aku lakukan? maka jawabanku adalah "Menerima Masalalu".  Kenapa begitu? Simak, inilah kisahku.
Setiap orang berkembang seiring menuanya usia kronologis dan matangnya usia psikologis. Idealisme yang terbangun dari mulai kita mampu berfikir kongkret hingga mampu berfikir abstak seperti sekarang ini. Banyak hal yang dulu fit dengan idealisme kita, namun setelah sekarang idealisme itu berubah semakin matang, hal-hal yang dulu kita lakukan kita sadari dan kita maknakan sebagai suatu kekeliruan dan kebodohan. 
Hidup terus berjalan, waktu terus bergulir, tidak
pernah ada tombol pause, stop, replay ataupun back
jadi, cobalah untuk terus berjalan dan terimalah
 siapapun kita dulu dan dari manapun kita bermula
Di masalaluku, banyak hal-hal jika jika aku terkenang dengan semua itu, maka aku benar-benar bisa mengutuki diriku sepanjang malam. Parahnya, bayangan masalalu tak bisa benar-benar hilang dengan mantra "Simsalabim" atau musnah begitu seja dengan sekali ketuk "Avadra Kadavra". Aku berfikir bahwa mengapa bisa sedemikian bodoh dan naifnya aku dulu sampai-sampai bisa melakukan hal-hal seperti itu dulu, padahal jika difikir kembali, seharusnya aku tahu itu adalah  dosa yang pantang dilakukan. Lalu aku meminta ampunan Tuhanku atas semua kesalahanku, lalu dengan penuh harap aku pupuk keyakinan bahwa Tuhanku sebaik itu, dia sudah jelas pasti mau mengampuni semua kesahalanku asal aku benar-benar bertaubat dan tidak lagi melakukannya. Aku rasa kini aku benar-benar bertaubat dengan hal itu.

Aku berfikir bahwa diriku harus menjadi sesempurna itu, namun ternyata aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku berasal dari suatu kisah pilu di masa lalu. disonansi kognitif yang benar-benar menyiksa. Aku tidak lagi menjadi sempurna seperti apa yang aku inginkan selama ini.
Melihat hal ini, maka aku harus belajar menerima masalalu, belajar memaafkan ketidaksempurnakan diriku, belajar untuk berhenti mengutuki kebodohanku di masa lampau dan kemudian mulai menerima semua kekurangan yang membuat aku belum mampu mencapai idealisme yang aku bangun. Aku harus bisa membebaskan diriku dari perasaan bersalah yang selama ini menjadi parasit, menggerogoti rasa percaya diriku dalam membangun kesempurnaan versi baru di masa depan. Aku harus belajar mengampuni diriku sendiri, sebagaimana Tuhan yang juga mengampuniku. Untuk apa selama aku memohon ampunan pada Tuhan, sedang diriku sendiri saja masih belum bisa mengampuni diriku?! 

Memikirkan kebodohan di masalalu hanya membuang banyak waktu yang seharusnya bisa digunakan lebih bijak untuk melakukan hal lain yang lebih bermanfaat. Faktanya menyumpahserapahi masalalu takkan bisa mengubah siapa diriku saat ini. Tuhan menciptakanku dengan penuh cinta dan kasih, taoi kenapa aku tak bisa mencintai diriku sendiri?! Kesempurnaan sebenarnya bisa jadi hanya bernilai subjektif saja, maka jadilah sempurna dengan cara dan versi kita sendiri. hiduplah untuk saat ini, berfikirlah tentang masadepan, dan belajarlah dari masa lalu. lepaskan dirimu dari semua rasa sesal dan bersalah,ampuni dirimu, lalu berjalanlah lebih jauh untuk meraih masa depan yang gemilang.

Senin, 17 Oktober 2016

Antara Emak dan Kesibukan Seorang Aktivis

Hola, kali ini aku akan coba membahas kesibukan dan panggilan pulang, buat kita-kita yang katanya aktivis kampus. Untuk kita para pengadu nasib di perantuan.Semoga potongan kisah ini dapat menghangatkan kembali semangat untuk segera pulang, melepas kerinduan dengan kampung halaman.


Kau boleh pergi kemanapun sesuka hatimu, tapi jika panggilan pulang itu sudah diserukan, pulanglah! Karena kau masih memiliki rumah yang merindukan kehadiranmu dan selalu menerimamu apa adanya,
Malam tadi, selesai shalat Isya, tiba-tiba si Champy berdering,
ternyata Mama yg telpon.
masih make mukena, aku geser layar si Champy lantas aku tempelkan k kuping kiri.
Me: "Assalamualaikum"
Ma: "Waalaykumussalam, Dek, lagi dimana?" (suara Mama terdengar lesu diujung sana)
Me: "Di kosan kok Ma, kenapa Ma?"
Ma: "Oh gapapa, Mama lg pengen ngobrol aja, udh makan?"
Me: "udah Ma, baru aja bikin indomie telor double"
Ma: "Jangan Indomie mulu! Nggak sehat Dek!"
Me: "Ini lagi pengen aja Mah, males banget ke warteg!"
Ma: "Dek, abis UTS libur nggak?"
Me: "Unpad mana ada libur Ma..."
Ma: "Oooh...." (nadanya turun, terdengar kecewa)
Me: "Kenapa Ma?"
Ma: "Papah nggak jadi pulang akhir bulan ini, dari Tegal mau  langsung ke Pekalongan, dapet tender disana"
Me: "Iya, tadi Papah telpon, Yaudah doain aja semoga Papah sehat terus. Mama lagi di rumah?"
Ma: "Iya, sepi banget di rumah Dek..."
Me: "Mama mau Adek pulang ya?"
Ma: "Adek kan nggak ada libur...."
Me: "Yaudah, Adek pulang ya insya Allah Jumat depan"
Ma: "Beneran? (nada bahagia) Tapi, adek kan pasti sibuk sama kegiatan lain" (nadanya turun lagi)
Me: "Iya Pulang insya Allah, kegiatan ada banyak Mah, tapi Adek tau kalo Adek harus pulang"
Ma: “Kalo Adek sibuk nggak apa-apa nggak usah pulang, jalanin aja dulu semua amanahnya!”
Me: “Amanah Adek nggak sekedar ikut rapat dan kegiatan, tapi juga berbakti sama Mama!”

Dan setelah itu Mama cerita panjang lebar dengan penuh antusias semua kegiatannya di kantor, kerjaannya, keadaan rumah sampai gosip terbaru di RT 1. ***Emak-emak banget ya... wkwkwkwk
Iya aku peka kok Ma, kalo Mama lagi pengen ditemenin & lagi kesepian banget di rumah.

Sangat dianjurkan kok aktif dibanyak kegiatan dengan niat ingin memaksimalkan potensi diri & menjadi Manusia yang lebih bermanfaat,  Tapi jangan sampai orangtuamu jadi prioritas nomor 7. Sehebat-hebatnya kita sebagai seorang aktivis mahasiswa, sekece-kecenya kita sebagai aktivis dakwah, kita tetaplah buah hati kesayangan ibu dan ayah kita, dan kepada merekalah pula bakti utama kita.
Seumur hidup kita diurus mereka, dididik & dibesarkan hingga kini, lalu sekarang sudah bisa merantau demi menggapai semua cita mereka jadi terlupakan karena semua kesibukan kita. Walaupun kita merantau pun tujuannya untuk memperbaiki nasib dan membahagiakan mereka, tapi ingatlah bahwa kebahagiaan yang tak kalah berarti yang bisa kita persembahkan untuk mereka bukan hanya sebatas materi, tapi juga afeksi dan eksistensi (keberadaan) kita disamping mereka. Nah, Padahal sorga kita saja ada pada telapak kaki Ibu kita, ada pada ridha ayah kita, kunci sukses kita terletak pada do'a mereka. Maka, jika panggilan pulang itu sudah datang, menyahutlah! Pulanglah! Karena kita masih punya rumah! Pulanglah, karena ada 2 malaikat yang membuka lebar sayapnya untuk memeluk kita sejenak dari semua kepenatan dan menyirami kita dengan keberkahan. Pulanglah! Karena kita sangatlah berarti dan dirindukan oleh mereka! Pulanglah, karena sebenarnya semua orang tua tak pernah berhenti merindukan anak-anaknya
Aktif itu harus, tapi berbakti kepada orangtua itu wajib hukumnya lho ya!
Semangat para aktivis muda! Selamat berbakti kepada almamater dan orang tuamu!
Jangan lupa kabari mereka selalu dan doakan mereka. even though just a text, They would be very happy to know that You'r allright. Because for them, You are so precious more than everything! 

***Titip salam untuk Emak, untuk keluarga tercinta di rumah, dari seorang anak rantau di Jatinangor yang selalu merindu handai taulannya***