Minggu, 04 Februari 2024

Sebuah Catatan Kecil dari Sudut Perpustakaan



Siang itu saya duduk di bangku paling pojok lantai 12 Gedung Perpusnas. Cuaca di luar terik. Sunyi mengambang di ruangan. Kursi-kursi sebagian terisi, sebagiannya lagi nampak kesepian. Jemari saya menari dengan lincah diatas tuts papan ketik, mengerjakan pekerjaan yang gagal selesai Jumat malam sebelumnya. Pikiran saya berlari jauh, menembus jendala kaca gedung ini, mendarat pada masa-masa yang terjadi cukup lampau, tapi masih terasa hangat untuk diingat. 

Scene pertama

Ini adalah tahun dua ribu dua puluh dua.

Rumah kami tidaklah besar, tapi cukup untuk meruangi kami berlima (saya, mama, bapak, emak, dan abah). Halaman kami lumayan luas, sekitar tiga ratus meter persegi mungkin ada, berbagai pohon, dari mulai talas hingga asoka, bermacam palawija, juga serangga, cacing, burung, dan aneka hewan melata membentuk ekosistemnya sendiri di sana. April adalah musim basah, hujan menyapa cukup akrab tiap harinya, di jam-jam sore menjelang malam, terkadang subuh menjelang pagi, membuat kabut -kami menyebutnya halimun- turun dari bukit hingga ke pekarangan setelahnya. April menjadi bulan kebebasan, karena akhirnya saya menganggur. Tapi saat itu saya percaya -atau setidaknya mencoba meyakinkan diri-, menganggur mungkin lebih baik dari pada makin hilang dan terluka karena diterkam 'monster' tiap hari. Ini kali pertama setidaknya dalam lima tahun terkahir saya menghabiskan waktu lebih dari dua bulan di rumah. mengambil pekerjaan yang bisa saya kerjakan dari rumah, bertemu dengan manusia yang kebanyakannya ramah dan cukup menyenangkan untuk diajak berbincang -walau secara virtual- tiap harinya memberikan saya gairah dan mengobati rasa cemas saya, tapi jemu jua lama-lama.  Masa itu kehidupan rasanya berjalan pelan, dan saya seperti diajari untuk menikmati setiap detik yang berlalu.

Scene kedua

Juni mampir juga. menandakan sudah setengah jalan tahun ini bergeliat molek, membawa banyak memori yang kian menumpuk dan tumpang tindih sebagiannya di otak saya. pertengahan bulan ini adalah ulang tahun Bapak. genap setengah abad lebih sedikit, dan selalu- dalam momentum memperingati hari kelahiran bapak, rasa sedih diam-diam menyelinap kedalam rasa syukur. menyadari  bahwa sosok pria pertama yang saya temui dalam hidup saya, semakin menua. Tapi alih-alih menyesap lebih dalam rasa sedih ini, seringnya saya menepisnya, sebuah bagian dari penolakan untuk overthinking, karena itu mengagalkan saya untuk hidup dengan penuh kesadaran -mindful- pada saat ini. dengan umur bapak yang sudah melebihi setengah abad, memori baik dengannya tetap tersimpan rapi dalam ingatan saya; seperti ketika pertama kali saya belajar sepeda dengan bapak dan terperosok ke kebun nanas (ini mengenaskan tapi kini jadi lucu untuk dikenang), momen bapak pulang dari perantauan setiap beberapa bulan sekali dengan membawa aneka buah tangan pesanan saya, momen kami membeli sepeda baru dari hasil menabung dan pulang mengayuh sepeda itu sambil berhujan-hujanan ria, momen berenang di pantai bersama bapak, momen piknik ke taman safari untuk pertama kali, dan banyak lagi... Setidaknya memori-memori itu masih tersimpan dengan baik hingga kini.

Masih di bulan juni, saya juga memperingati hari lahir saya. Dewasa kini memperingati hari ulang tahun entah kenapa jadi terasa hambar. mungkin bersama usia saya jadi merasa bahwa ulang tahun sebetulnya sama saja dengan hari-hari pada umumnya, yang berbeda di hari itu kita boleh menambahkan satu pada hitungan usia. Tapi bagaimana pun saya tetap berterima kasih karena orang-orang terdekat saya dengan tulus menghadiahi doa dan selamat, mereka mengingatnya dengan baik dan merayakannya dengan suka cita, dan tentu hal itu tidak pernah gagal membuat tersentuh dan menambah lagi rasa syukur; bahwa saya dikelilingi orang-orang yang menghujani kasih tanpa pamrih.

Agustus datang, 

Saya tidak yakin saya harus memberi tema apa bulan ini, karena campur aduk rasanya. gagal dan berhasil, keduanya mampir di bulan yang sama, dan saya mensyukuri keduanya. Untuk menemukan diri saya yang baru dari kegagalan yang saya alami, dan untuk membuktikan bahwa saya masih layak untuk mendapat kesempatan lain. Saya mencintai keduanya, karena pada akhirnya dari kedua itu saya belajar; untuk tidak menyerah dan terus mencoba, untuk tidak merendahkan diri saya hanya karena sekali gagal, dan ternyata kegagalan itu wajar sekali, normal dialami oleh banyak orang di luar sana. di titik ini, sejujurnya kegamangan terus mengambang dalam kepala saya, bagaimana pun saya jadi banyak bertanya; Mau kemana? Mau ngapain dulu? Mau mulai dari mana ya? Krisis kehidupan seperempat abad saya kira tidak akan semengganggu ini, tapi ternyata saya salah. Dengan segenap pergumulan dan pengharapan, saya mencoba terus berjalan, menghampiri satu persatu pintu, karena entah dari pintu mana Tuhan bukakan jalan. 

Bohong kalau saya tidak murung dalam menjalaninya, tapi entah apapun perasaan yang meruang dalam hati, saya hanya punya satu pilihan: Terus hidup. Sekalipun langkah-langkah menjadi sangat berat, dengan sisa keberdayaan yang ada, saya harus menyeret kaki saya untuk terus melangkah. Menyakitkan dan melelahkan, tapi ini jauh lebih baik dari pada saya terus teronggok tak berdaya dan lama kelamaan tenggelam sendirian.   

Scene ketiga

November menyapa,

November berasosiasi dengan banyaknya kenangan manis. Momen kelulusan dan wisuda, jalan-jalan, diterima bekerja untuk pertama kali setelah kelulusan, pertemuan dengan seseorang yang membuat kupu-kupu di perut saya beterbangan, dan momen bahagia lainnya. Saya kembali ke ibukota dengan perasaan yang tidak karuan, senang dan bimbang bersatu menghasilkan peperangan cortisol, adrenalin, dan serotonin membuncah. Saya mencoba untuk melihat dengan kaca mata bahwa mungkin ini jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya kepada Tuhan selama ini, bisa juga bukan, tapi marilah menjalani ini dengan penuh syukur. 

Malam itu gerimis tipis-tipis, kereta saya berangkat pukul sembilan lima belas, dengan menggerek koper besar yang tingginya setengah dari tinggi badan saya, saya meninggalkan rumah, dengan kecup manis dari emak, dan doa tulus dari abah. Saya mengingat dengan jelas saya memeluk Iteung dan Odas -kucing kesayangan saya- sebelum pergi, lalu menyalami para tetangga dekat yang sudah dianggap keluarga sendiri untuk berpamitan. Sudah dua tahun tahun sejak terakhir saya meninggalkan ibu kota pada dua ribu dua puluh akhir, dan kini saya kembali menetap lagi, mungkin untuk waktu yang tidak sebentar.

Saya menghabiskan malam di kereta, perjalanan panjang dengan Serayu membelah sepur sepanjang tiga ratus lima puluh kilometer. Di atas kursi tegak lurus kereta ekonomi saya mencoba memejamkan mata, tapi pikiran saya sibuk sekali malam itu. Jakarta menyambut saya dengan udara yang lengket dan berdebu, entah apapun yang menanti di depan sana, kali ini pilihan saya lagi-lagi cuma satu: Menghadapinya dengan berani, karena saya pun sudah berjalan sejauh ini.

Dan untuk memulai lagi sebuah perjalanan baru memang benar, tidaklah mudah. Ketakutan sempat menguasai saya, membuat saya lupa bahwa saya punya kemampuan dan dengan itu mungkin saya bisa berdaya lebih dari ini. Kepercayaan diri menguap begitu saja, esteem saya mlempem dan mati-matian saya mencoba memompanya untuk mengembang lagi. Saya merenungi, kenapa ya sebegitu berat dan takut untuk dihadapi? Ini bukan pertama kali juga padahal... Belakangan saya sadari, ada banyak hal yang belum selesai dalam diri saya, dan saya harus berdamai dengan itu semua. Berdamai bahwa mungkin kata selesai itu tidak akan pernah ada pada akhirnya, yang ada adalah kita harus hidup dan terus berjalan bersama semua itu. Rasa takut hanya akan membelenggu dan membuat saya tidak berjalan kemana-mana, lalu kehilangan banyak kesempatan karenanya. 


Seorang lelaki paruh baya dengan kemeja marun yang lengannya dilipat hingga ke sikut menghampiri saya, "Maaf mbak 15 menit lagi perpustakaan tutup, silahkan mulai berbenah" mendengar itu saya gagap tersentak, seperti ditarik dari imajinasi dan lamunan panjang saya dengan tiba-tiba. Tulisan saya belum selesai, dan nampaknya akan mengendap kembali di draft untuk ke sekian kalinya.


Dalam perjalanan pulang dengan bis kota sore hari itu, saya duduk sendirian di bangku kedua dari belakang, menyenderkan muka ke jendela. Scene selanjutnya adalah saya kembali sibuk dengan pikiran saya sembari menonton geliat kehidupan jalanan protokol yang ramai lancar, dari headset lagu-lagu One Ok Rock mengalun pelan. Saya ingin melanjutkan kembali tulisan saya, sekalipun tulisan itu hanya akan berakhir menjadi kisah yang tidak cukup menarik buat orang-orang. Tapi mungkin suatu hari nanti, saat membacanya lagi, catatan lama ini bisa membawa kembali hal yang dulu dirasakan, untuk pengingat bahwa saya sudah berjalan cukup jauh dan bertahan -meski babak belur jua akhinya- dari berbagai krisis. Atau, kala banyak hal yang tak lagi bisa dilakukan, karena usia atau yang lain, saya akan mengenang dengan manis sebuah masa ketika saya bisa demikian merangkaknya memutar roda kehidupan, atau begitu bahagia menerima fortuna dan anugerah.

Waktu terus berjalan, memori terus bertumpuk, sebagian mulai terlupakan, yang lain saling berebut tempat untuk dikenang. Dan saya ingin mengenang dengan baik perjalanan ini, lalu mungkin di kemudian hari merayakan kembali kemenangan-kemenangan kecil dari berbagai pertarungan dan pertaruhan hidup, atau sekedar mensyukuri dengan layak bahwa hari ini saya masih hidup. Hingga akhirnya suatu saat nanti jika saya hidup cukup lama, saat ingatan saya mulai memudar dan usia saya melampaui ranum, saya bisa dengan jujur memberikan testimoni dan menyelamati diri saya sendiri: "bahwa saya sudah memperjuangkan kehidupan ini dengan baik".





Jakarta, Februari 2024.


Minggu, 26 Juni 2022

26 yang ke-26: Perjalanan dalam Menerima dan Mengikhlaskan.

Dokumentasi Pribadi

Semalam, setelah selesai dengan bacaan favoritku di Wattpad, seperti biasa ada sesi satu jam untuk kepalaku bergerilya memikirkan ini dan itu (ini sudah jadi rutinitas sebelum tidur). Satu jam sebelum jam 00, aku bengong memandang kosong pada angka 11:05, June 25 di layar gawai, berbagai perasaan nostalgia lamat-lamat merambat, mengisi celah-celah kosong. Flashback rasanya ke tanggal 26 Juni tahun kemarin yang dilalui dengan gontai dan sekarat, bukan sekedar babak belur, tapi hancur lebur seperti sebuah guci yang dilindas tank (perumpaannya agak aneh tapi itulah yang sekarang terlintas di otakku). Tahun ini aku menemui diriku lagi di tanggal dua enam pada bulan ke-enam, di hitungan usia yang ke dua enam juga. Terima kasih Allah, aku merasa diajak tumbuh dan dijaga dari banyak hal buruk dari tanggal 26 ke tanggal 26 lagi. 

Tahun dua ribu dua satu memang tidak menjadi tahun yang banyak mengundang tawa dan senyum, justru dominan sesak dan patahnya yang aku rasa. Tahun yang mempertemukan aku pada kehilangan dan memaksaku untuk berkenalan lebih dalam dengan ikhlas, ridha, dan melepaskan, tahun yang menuntun untuk melapangkan hati lebih gila lagi dari sebelumnya. Tahun yang tidak hanya banyak turun hujan di luar jendala, tapi juga di pelupuk mata. Tahun lalu di tanggal yang sama, aku merayakan malam yang hujan sendirian dengan pikiran yang lebih dari berantakan dan perasaan yang lebih dari patah hati tak karuan. Dari mulai kehilangan rasa percaya kepada orang-orang yang awalnya paling dipercaya dan paling bisa diandalkan, kehilangan kepercayaan diri untuk melangkah, kehilangan harapan karena berkali-kali dikecewakan, gagal meraih mimpi meski rasanya sudah jungkir balik berjuang, gagal memenuhi ekspektasi diri dan orang-orang di sekitar, trauma mendalam karena abusive experience dari tempat bekerja, hingga kehilangan orang yang diekspektasikan akan menemani hingga akhir.

Aku memutuskan untuk rehat dari hampir semua hal yang aku lakukan sebelumnya; pekerjaan, relasi, dan mengisolasi diri dari dunia luar untuk sementara waktu. Bulan ke-5 aku kembali ke rumah, mendapati ada terlalu banyak borok bernanah yang tumbuh dimana-mana. Rumah selalu jadi tempat untuk aku bisa beristirahat, meletakkan sejenak semua beban di pundak, dan menenggelamkan sejenak semua hal yang riuh ricuh di kepala, tapi tidak untuk saat itu. 

Rumah dalam bayangangku berubah menjadi sebuah kastil terkutuk yang sudah lama ditinggal pergi penghuninya, usang, bobrok, lembab, berantakan, dingin, sunyi, seram, dan gelap. Aku kira selama aku pergi hampir tujuh tahun lamanya, semua berjalan baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Mendapati realita yang begitu mencengangkan saat itu, seperti jiwaku copot; keluar dari raga saking syoknya.

Aku selalu percaya bahwa manusia itu didesain Allah dengan super duper canggih, bisa beradaptasi dalam banyak situasi yang berubah-ubah, punya daya pegas saat tertekan (baca; resiliensi), punya source ketabahan saat dihadapkan pada stressor, dan punya kemampuan pemecahan masalah yang kreatif juga. Aku selalu percaya tiap manusia punya modal semua itu, hanya mungkin berbeda-beda kapasitasnya. Aku juga percaya kalau diriku punya kemampuan itu, karena rasa-rasanya selama ini aku masih bisa survive saat dihadapkan kepada banyak ujian dan kesulitan hidup (iya aku kelewat pede sekali saat itu). 

Dua ribu dua satu masalah datang bertubi-tubi dalam waktu berdekatan, seakan tidak mengizinkan aku untuk menarik nafas barang sejenak pun. Aku diuji dalam hal yang selama ini aku anggap paling berharga buatku dan selalu bisa jadi titik kuat sekaligus titik lemahku. BOOM! WOOOSH! DUAR! Aku sadar akhirnya, aku tidak lebih manusia biasa yang saat itu limit kekuatannya belum besar dan kesabarannya belum terlalu lebar. Ternyata benar pepatah para pemuka yang mengatakan bahwa kita akan diuji pada hal yang berharga untuk kita dan menjadi kelemahan untuk kita, sungguh aku baru saja mengalaminya lho! Haha…

Tahu rasanya terjebak di lumpur hisap di tengah rawa? Tipikal tenggelam yang tidak langsung tenggelam seperti tercebur ke air, ia menghisap kita perlahan dan kita sadar sedikit demi sedikit kita terus tersedot kedalam sampai akhirnya benar-benar tenggelam. Mungkin itu analogi yang bisa menggambarkan yang aku rasakan di tahun 2021. Dulu sebelum aku dihantam ujian bertubi, aku melihat diriku berdiri penuh luka, iya dia terluka di sana sini tapi ia masih berdiri dan terus berjalan. Lalu aku menemukan diriku tercabik-cabik, dia berusaha setengah mati untuk tetap berdiri tapi kemudian badai datang dan dia hilang, terbawa badai, terlempar dan tersesat entah kemana. Aku pikir aku sudah cukup kuat untuk tetap berjalan menahan semuanya sendirian, tapi nyatanya aku tidak sekeren itu.

Pernah ada malam-malam tanpa pejam, lelah sekali meladeni ribut yang tak kunjung henti di dalam kepala, engap sekali menahan sesak di dada, seperti sebongkah batu ditimpakan disana. Ragaku diam, tapi pikiran dan perasaanku berperang hebat, kalaupun pada akhirnya sisa logika dan kewarasanku berhasil menjadi wasit dan membiarkan salah satunya menang (untuk sementara), kemenangan itu pada akhirnya hanya akan melukai yang lainnya, untuk kemudian menciptakan pertempuran-pertempuran lainnya. Jadi pada dasarnya, aku seperti terjebak dalam pertempuran tanpa akhir antara diriku dengan diriku. Paham maksudnya, kan?! Aku hanya ingin rehat, aku benar-benar terlampau lelah, merasa sekarat, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk beristirahat. 

Ada pula masa-masa dimana aku benar-benar lari (secara eksplisit dan implisit) karena saking muak dan lelahnya dengan realita, sedikit berharap mendapat distraksi dan solusi. Untungnya aku sudah belajar bahwa kekecewaan lahir karena ekspektasi kita sendiri, jadi aku berusaha mengendalikan ekspektasiku, sekacau apapun aku saat itu. Bertemu banyak orang, berada pada suasana baru, awalnya lumayan membantu tapi hanya menjadi distraksi temporer saja. Seperti membalut luka dengan perban, tapi sebenarnya jauh di dalamnya terlanjur borok dan infeksi. Pada akhirnya tangisnya reda, tapi sakitnya masih kuat berdenyut dan sesaknya tetap ada. Seribu kata-kata bijak dan ceramah hanya terasa seperti angin yang mengusap muka, sesi konseling berjam-jam lamanya terasa hanya berputar pada hal yang sama. Lelah sekali mengulang-ngulang kembali rasa sakit dan luka yang selama ini mati-matian disembunyikan.

Tiap orang punya masalah dan struggle tersendiri, hanya karena seseorang tidak bisa sesuatu yang kita bisa, bukan berarti kita lebih baik dari mereka, pun sebaliknya. Aku jadi belajar hal itu. Aku pernah ada di titik dimana aku tidak tahu harus pergi kemana, harus berbuat apa, harus menjadi apa, dan aku benar-benar merasa asing dengan diriku sendiri. Semua rasa percaya diri dan esteem menguap entah kemana (mungkin kamu juga pernah?). Aku merasa munafik sekali mengatakan “Love yourself” karena sebenarnya aku pun tidak benar-benar paham apa itu mencintai diri sendiri? Bagaimana caranya? Seperti apa konkretnya? Aku jadi takut, apakah jangan-jangan yang aku tampilkan di depan orang-orang selama ini hanya topeng belaka? Aku yang orang-orang lihat sebagai seseorang yang penuh percaya diri, punya drive yang tinggi, dan selalu ceria. Bagaimana kalau ternyata aku yang sebenarnya justru kebalikan dari itu semua? Berbagai keraguan akhirnya muncul, menjelma menjadi monster mengerikan yang perlahan melahapku luar dan dalam.

Kenapa aku? Kenapa harus aku? Kenapa harus begini? Kenapa orang-orang terlihat begitu mudah hidupnya sedangkan aku harus sebegini sulitnya? Pertanyaan itu mulai menggerayangi jiwa yang gersang dan mental yang terlanjur ancur-ancuran.

“I move along, something’s wrong, I guess a part of me is gone….

Tired soul, dying hope, I guess Im running out of road, I guess I’ve got nowhere…

Feels like Im dying, feels like Im lying to my self, I know that Im trying, but it feels like Im in hell…

Sometimes I just wanna quit, tell my life Im done with it, when it feels too painful…

Someday I just wanna say, I love myself but not today, when it feels too painful, I smash my broken heart of gold…”

(Broken Heart of Gold – One Ok Rock) -Lagu yang rasanya paling bisa menggambarkan-.

Aku sampai di titik bahwa aku benar-benar merasa hanya butiran debu (dalam makna yang sesungguhnya). Kecil, tak berguna, tak layak, dan tak berharga. Selama ini esteemku selalu merasa tersakiti ketika ada orang lain yang mengasihaniku, oleh karenanya aku benci dikasihani.  Tapi tahukah kalau ada level yang lebih menyakitkan daripada dikasihani oleh orang lain? Ya, dikasihani diri sendiri. Kenapa sakit sekali rasanya, karena ketika kita di tahap kita mengasihani diri sendiri berarti kita sadar betul kalau saat itu diri kita sedang berada pada titik paling rendah dan paling sulit, feels helpless dan hopeless, dan itu rasanya sudah di paling ujung limit kita mentoleransi luka. Kita paham bahwa kita sudah menahan dan memaksakan diri sejauh itu, berusaha sekeras itu, tapi keadaan yang dihadapi tidak juga sedikitpun menunjukan kemurahan dan belas kasih. 

Pasrah. Iya. Hanya bisa pasrah. Sadar betul selama masalah menghantam bertubi itu, rasanya aku masih cukup ponggah untuk berpikir bahwa “Aku bisa sendiri, aku kuat, aku pasti bisa melewatinya seperti yang sudah-sudah”. Lupa kalau aku punya Allah. Lupa kalau Tuhanku itu Maha Keren, nggak pernah gagal nolongin dan nggak pernah meninggalkanku. Dalam kepasrahan di sisa diri yang hancur porak poranda, aku serahkan semua urusanku, kealphaan diriku, kejatuhan hidupku, dan keruwetan permasalahanku kepada-Nya. Aku banyak dikecewakan dan ditinggalkan manusia, dikhianati realita dan diledeki ekspektasi, mungkinkah karena aku lebih banyak bergantung kepada selain-Nya selama ini? Karena hidup tidak selalu tetap. Orang-orang akan berubah, orang-orang akan pergi, tapi Allah tidak. Allah itu tetap, kekal, dan selalu ada.

Dalam obrolan hampir dua jam lamanya di tengah malam dengan seorang kawan di Yogya, akhirnya aku mengakui bahwa memang aku terluka dan jauh dari baik-baik saja. Aku menerima akhirnya bahwa aku lemah dan bisa tidak berdaya saat itu. Sebuah hal yang akhirnya keluar dengan suka rela setelah sebelumnya selalu aku tutup-tutupi, menjadi lemah itu aib dan bukan hal yang bagus, kan? (itu tadinya pendirianku) jadi meski aku tidak baik-baik saja aku akan berusaha menutup lukanya dengan segala cara agar orang tidak perlu melihat. Apakah dengan menerima semuanya selesai begitu saja? Haha inginnya begitu tapi sayangnya tidak. Menerima bahwa diriku memang terluka, sedang tidak baik-baik saja tidak lantas menjadikan validasi bahwa diriku harus selamanya tidak baik-baik saja, kan?!

Dalam obrolan selama tiga setengah jam di sore hari pada penghujung tahun bersama seorang kawan di Bandung, aku akhirnya mendapati lagi diriku harus bergerak, melepaskan, dan mengikhlaskan. Untuk tidak perlu lagi mencari jawaban “Why me?” agar bisa melepaskan semua kenangan buruk dan traumatis itu sebagai bagian dari diriku dan mencoba berdamai dengannya. Iya benar sekali rasanya sakit, rasanya tidak enak, rasanya tidak mudah, tapi apakah lantas aku harus terus berfokus pada rasa sakitnya saja terus menerus? Bukankah aku layak untuk hidup dengan lebih baik? Bukankah aku layak untuk sembuh? Aku melepaskan sedikit demi sedikit dendam dan amarah yang ada di hatiku, dendam kepada realita yang banyak mengkhianati, amarah kepada diri sendiri dan kepada orang-orang yang telah menyakiti, melepaskan semuanya demi ketenangan diriku. Mengikhlaskan demi kelegaan diriku. Tidak lagi menaruh ekspektasi terlalu tinggi, tidak perlu lagi overthinking pada hal-hal yang tidak bisa kukendalikan. Aku tidak pernah bisa mengubah orang lain tapi aku bisa mengendalikan ekspektasi dan responku pada orang lain, ingat baik-baik, okay?!

KENAPA HARUS AKU YANG MENGALAMI SEMUA INI? Bagaimana kalau ternyata memang itu tidak beralasan khusus, memang hanya harus aku saja yang mengalami semua itu. Memang seharusnya aku gagal, aku jatuh, dqn aku diuji. Memang seharusnya itu terjadi seperti itu dalam skenario yang Allah tulis untukku. Selama ini aiu tumbuh menjadi manusia yang banyak berhasil dan takut gagal (setelah ku resap lagi perjalanan hidupku). Aku selalu bilang pada diriku kalau kamu harus berhasil dan aku benar berhasil (atas Izin Allah), tapi ternyata keberhasilan itu diperjuangkan mati-matian bukan karena ingin berhasil, tapi karena  takut gagal. Dan kemarin ujian yang Allah beri salah satunya adalah kegagalan (which is the scariest thing in my life).  

Setelahnya jadi paham, semua orang pernah gagal, tidak apa-apa untuk gagal. Menghindari kegagalan itu omong kosong, bahkan jika aku berhasil mencapai keberhasilan, tidak pernah ada jaminan aku tidak akan gagal setelahnya. Ketika gagal hari ini, pada akhirnya semua itu akan berlalu, kita akan melewatinya dan berdiri lagi seperti yang sudah-sudah. Kapan bisa berdiri lagi, itu diri kita sendiri yang menentukan. Jadi, bagaimana kalau sekarang aku memutuskan untuk berdiri lagi? Ide bagus, kan?! Dan lagi kalau kata Pak Suyadi dalam Narasi 2021 karya Tenderlova, mau seratus, seribu, atau sejuta kali pun kita gagal, pada akhirnya kita bakal berhasil. Berhasil untuk jadi manusia yang tidak mudah menyerah pada satu titik gagal dan titik sulit dalam hidup. Well said.

Chapter mengikhlaskan akan menjadi bagian paling berdarah-darah dari perjalananku menemukan jalan pulang, karena sungguh, berani sumpah, itu sama sekali tidak mudah. Dalam prosesnya bukan hanya harus bisa menerima dan berdamai dengan diri dan realita (beserta semua yang ada didalamnya), tapi juga harus punya kesabaran luar bisa ekstra. Bukan lagi double atau triple, tapi mungkin quintuple atau bahkan centuple. Prosesnya tidak bisa diburu-buru dan dalam perjalanannya bukan tidak mungkin akan terluka lagi. Tapi, kalaupun terluka lagi bukankah kesempatan untuk bisa sembuh itu selalu ada?! Tiap orang sepertinya punya cara tersendiri untuk berdamai dan melerai pertikaian dalam dirinya, dan caraku adalah dengan meminta pendampingan Allah dalam tiap pertempuranku melawan diriku, dalam tiap usahaku untuk menenangkan riuh hatiku. Mengingat bahwa aku hanya hamba, berprasangka baik bahwa Allah akan mengganti semua lara dengan hal-hal baik dan kebahagiaan karena aku pantas untuk itu, membiarkan diriku rehat dengan menyadari penuh semua yang aku punya, semua yang ada, semua yang dikirimkanNya selama ini selalu lebih dari cukup untuk bisa disyukuri dan dinikmati dengan layak. Hidup berputar, kemarib mungkin aku sedang di bawah, dan kini aku sedang dalam usahaku untuk memutarnya agar tidak selamanya di bawah.

Dalam sebuah film aku pernah mendengar kutipqn tentang Teori Kuantitas Penderitaan; tiap orang punya jatah dan kuantitas sedih & bahagianya masing-masing, ketika kesedihan ditimpakan terus menerus hingga limit kuantitasnya, maka tinggal jatah kebahagiaan yang tersisa. Marilah berprasangka baik bahwa cukuplah air mata dan kesedihan yang kuterima sepanjang tahun lalu merupakan bagian dari cara menguras jatah sedihku, hingga tinggal jatah kebahagiaan yang banyak tersisa untuk dirayakan. Semoga.

Tanggal dua puluh enam bulan enam tahun dua ribu dua puluh dua ini aku bersyukur sekali, atas cinta dan afeksi yang masih mengalir dari orang-orang tulus dan baik, dari keberadaan orang-orang terkasih di sisiku, dari kesehatan yang terasa begitu nikmat, pagi yang tenang, siang yang teduh, dan malam yang sejuk. Merayakan kehidupan yang sangat berharga dan layak diperjuangkan dengan sepanci opor ayam yang dimasak dengan suka cita. Mendengar lantunan doa-doa yang tulus dari orang-orang terdekat, berkutat dengan bacaan dan lagu-lagu favorit sebelum tidur, menyambut pekerjaan yang sudah datang dan yang akan dikerjakan, aktivitas yang tidak begitu padat sehingga menyisakan waktu untuk menikmati petang dalam obrolan ringan dengan orang rumah sembari mengelus kucing kesayangan di depan perapian. 

Masalahnya mungkin tidak sepenuhnya selesai, siapa bilang juga lukanya sudah benar-benar sembuh, tapi aku hanya ingin menikmati hangatnya hidup saat ini sembari memeluk diriku yang sudah banyak kulukai dan kumusuhi beberapa waktu sebelumnya. Selamat ulang tahun Rina Parliya! Hari ini tanggal 26 bulan 6 yang ke-26, semoga lebih banyak hal baik berdatangan. Be happier, you deserve it. Now is your turn to comeback with new chapter, dont be afraid when a door is closed, let's find & open another one, right?!






Minggu, 06 Maret 2022

Pemberhentian Terakhir

Source: Twitter
Source: Twitter


Bulan berganti, dari semua bulan, Maret punya cerita khusus buatku, karena di bulan ini tiga tahun lalu, aku mengawali hidup baru jauh beratus kilometer dari kamar empat meter persegiku. Maret juga mengingatkan pada titik awal aku merelakan yang sempat singgah, menanam banyak harap, kemudian pergi tanpa menyampaikan sebaris pun salam penutup. 

Kereta Lodaya Gerbong 4 kursi 6D & 6E aku masih ingat betul, kita duduk bersebelahan. Pertemuan kita dalam perjalanan itu bukan hal yang sengaja dan sama sekali tidak pernah terduga sebelumnya. Dalam jarak yang begitu dekat, diam menyekat, terasa agak sesak saat terhirup. Aku mengawali  dengan pertanyaan basa-basi yang tidak begitu menggugah “Ibu, apa kabar dia?” butuh jeda lima detik untuk kau menjawab dengan pelan dan suara agak bergetar “Dia baik, tensinya masih naik turun, tapi sekarang dia baik” aku tidak menyaut, hanya mengangguk. Untuk sekian menit setelahnya hanya terdengar gemuruh mesin kereta dan obrolan dua perempuan yang duduk tepat di bangku sebrang lorong kursi kita.

“Kamu sekarang, sibuk apa?” tanyamu datar.

Sibuk menerka dan memikirkanmu, mengapa pesanku hanya terkirim begitu saja tanpa pernah mendapat balasan, mengapa telponku selalu mendapat penolakan, mengapa tidak satu pun kabarmu menjumpaiku tiga bulan terakhir ini, padahal riwayat daringmu selalu tertera aktif, mengapa?

“Oh, aku baru saja menyerahkan naskah final  tugas akhirku paska perbaikan setelah sidang”

“Baguslah kalau sudah semua selesai, berarti bulan depan kamu bisa ikut wisuda sesuai harapanmu”

“Sepertinya begitu, kurasa”

“Setelah ini, kamu mau kemana?”

Bukankah janjimu enam bulan lalu setelah aku wisuda target kita adalah menyelesaikan semua urusan masing-masing dan bertemu di tempat yang lebih layak?

“Oh, belum tahu, mungkin kembali ke sini lagi jika aku jadi mengambil tawaran bekerja di kantor konsultan dari salah satu senior kuliah, atau mungkin mencoba peruntungan lain di ibu kota” jawabku sekenanya.

“Kamu memang punya lebih dari cukup potensi untuk melakukan itu semua.” jawabanmu ini juga terdengar sekenanya saja.

“Lalu kamu?” 

“Aku?”

“Ya, apa rencanamu setelah ini?”

Tik tok tik tok tik tok…

Hahhh….

Hanya terdengar nafas yang dihembuskan sembarangan dengan berat dan air muka yang sulit kuterjemahkan. Tetap tidak ada jawaban.

“Pasti ada banyak hal yang mau kamu lakukan setelah ini…” Aku berakhir menjawab pertanyaanku sendiri

“Aku rasa begitu, ada beberapa hal yang sedang aku rencanakan dalam waktu dekat ini. Sejak bulan lalu aku dipindah tugaskan ke Tulungagung. Yah, jadinya banyak hal yang mesti aku urus akhir-akhir ini.”

“Wow, tak tertebak sekali ya?! Tapi, kenapa Tulungagung? Bukankah kamu bilang kamu akan mengajukan perpanjangan penetapan tugas di kotaku? Lagipula masih ada sekitar enam bulan lagi sampai habis masa penugasanmu di kotaku, bukan?”

“Aku hanya menuruti keputusan manajemen”

Kenapa aku baru tahu sekarang? Bukankah kita bersepakat untuk selalu mendiskusikan mengenai tempat tinggal, rencana masa depan, dan semua keputusan penting bersama? Sekarang apa lagi hal dan keputusan-keputusan penting yang sudah kau buat yang aku tidak tahu?

“Oh, oke… Semoga kamu tidak akan rindu makan nasi goreng cumi Mang Jawi di depan statsiun ya… Haha… Tulungagung dari sekian banyak kota, kenapa? apa saja hal yang menarik dari sana?”

“Sama saja seperti kotamu, tapi entah kenapa Tulungagung terasa lebih nyaman dan indah menurutku. Aku menyukai suasana di Tulungagung dan ada banyak hal yang sangat ku sukai di sana”

Ada sesuatu yang mencegat tenggorokanku saat aku berusaha mencerna jawabanmu, rasanya sesak, mati-matian coba kutelan saja.

“Waktu tiga bulan nampaknya mampu mengubah banyak hal dalam hidup kita, menarik ya… Yeah, semoga berhasil di Tulungagung sana! Oh iya, Ibumu masih sesekali mengirimkan pesan padaku, kudengar kakak iparmu sudah melahirkan seorang bayi lelaki tampan beberapa minggu lalu, selamat ya…” semoga suaraku tidak terdengar telalu memaksa dan bergetar

“Iya, terima kasih… “

Pembicaraan ini kian aneh dan tidak nyaman, ada banyak hal yang terasa canggung dan disembunyikan. Aku sudah tidak tahan lagi, jadi setelah berpikir dan mengeja pelan-pelan kalimat tanya dalam batinku, aku beranikan diri jujur bertanya.

“Hingga saat ini ruang obrolan kita di watsap hanya berisi pesan-pesanku, tanpa ada jawaban darimu… Aku pikir mungkin kamu terlalu sibuk selama ini, atau mungkin ada gangguan pada ponselmu sehingga pesanku sebenarnya tidak pernah sampai padamu, atau mungkin... Entahlah... Adakah hal lain yang aku tidak tahu?”

“Aku hanya sering tidak membuka ponsel karena ada banyak yang mesti ku kerjakan akhir-akhir ini”

Aku sudah lumayan pede mengira kau akan -setidaknya- berkata 'maafkan aku' atau 'aku menyesal, aku tidak bermaksud seperti itu' tapi, kata maaf dan menyesal nampaknya terlalu mahal buatmu saat itu, atau memang sepertinya aku kepedean sendiri, terlalu berlebihan mengharapkan itu semua darimu.

“Jujur, tiga bulan ini terasa sangat panjang  buatku, dan aku tidak tahu apakah semua berjalan baik-baik saja diantara kita. Hanya saja selama ini, dari semua prasangka dan prakira yang terus berputar di kepalaku, aku masih berusaha memegang apa yang pernah kamu ucapkan tempo hari padaku. Aku bahkan tidak tahu, yang aku lakukan selama ini benar atau salah.”

Ada sebongkah batu dalam dadaku.

“Aku hanya… Aku tidak tahu harus bagaimana… Aku mungkin butuh waktu untuk diriku sendiri, mempertimbangkan dan memikirkan banyak hal” Katamu dengan penuh ragu.

“Kita memang harus meragukan banyak hal dulu untuk kemudian yakin. Aku paham sekali. Semua keputusannya ada pada diri kita, aku memutuskan untuk tetap mempercayaimu meski tiga bulan ini kau alpha, sembari aku menyelesaikan bagian-bagianku yang belum rampung. Tapi, semua jadi terasa seakan aku berjalan sendirian di jalan yang telah kita sepakati tempuh bersama. Selama tiga bulan ini, pasti banyak yang terjadi... Apa lagi hal yang harusnya aku tahu tapi aku tidak tahu selain salah satunya kamu pindah ke Tulungagung secara tiba-tiba?” mati-matian rasanya berusaha aku mengatur intonasi agar terdengar tenang.

“Semua berjalan seperti biasa, tidak ada yang istimewa. Aku pindah ke Tulungagung karena ada hal yang aku temukan dan harus aku selesaikan di sana”

“Aku sangat menghargai kejujuran dan keterusterangan, kamu mesti sudah paham itu.”

“Kamu bilang Ibu masih sering mengirimimu pesan, apa saja yang Ibu katakan padamu?”

“Tidak banyak, aku mau tahu lebih banyak langsung darimu.”

“Tidak banyak yang bisa aku katakan, sayangnya..."

Ada jeda beberapa detik, kemudian kau melanjutkan perkataanmu

"Kau ingat, dulu kau pernah bilang padaku bahwa tidak semua hal mesti berjalan sesuai harapan kita, bukan?! Tidak semua hal yang kita inginkan mesti kita miliki, tidak semua hal mesti berakhir bahagia, tidak semua hal harus berhasil dalam hidup kita"

“Ya. Kita pun begitu sekarang, bukan?”

Kau kembali terdiam membiarkan pertanyaanku menggantung begitu saja diantara banyak pertanyaan lain yang teramat ingin kutanyakan padanya saat itu.

Selama ini aku mengira wajahmu selalu seperti itu; dengan kulit langsat, mata sipit, hidung mungil yang mengembang saat tertawa, bibir ipis dengan suara berat agak serak yang selalu berkata apa adanya, tertawa dengan renyahnya pada guyonan-guyonan ringan, dan senyum tulus yang sudah begitu akrab dalam imajinasiku. Tapi ku rasa itu hanya wajah yang kau tunjukan padaku, masih banyak rupa yang tersimpan dibaliknya. Hari ini aku menemukan wajahmu yang lain; kaku, dingin, dan ambigu. Aku jadi bertanya-tanya, seperti apakah rupa aslimu? Saat ini aku mulai paham dan berhenti mempertanyakan itu semua. Aku berhenti untuk mencari tahu lebih dalam. Semakin aku ingin bertanya semakin pula hatiku membungkam diriku untuk berhenti.

Saat itu tak banyak percakapan terjadi di antara kita, sunyi menciptakan tembok yang kian tinggi dalam jarak kita yang hanya yang bersebelahan itu. Kita sibuk dengan berbagai narasi dalam pikiran dan perasaan masing-masing. Aku membenamkan ujung headseat ke kedua telinga dan membiarkan lagu-lagu berbahasa Korea favoritku mengalun begitu saja dari pemutar musik di ponselku. Saat kereta berhenti untuk pengecekan dan langsir di statsiun Cipeundeuy, kau beranjak pergi keluar, ingin mencari angin segar katamu karena pemberhentian kereta cukup lama di statsiun ini. Aku tetap di kursiku, memandang keluar jendela dengan isi kepalaku yang mengembara kemari dan kesana, kesini juga kesitu. 

Saat kereta perlahan bergerak maju kembali, kau tidak kembali lagi ke sampingku. Aku pun tidak mencari keberadaanmu karena saat itu hatiku terlalu sibuk mengolah rasa dan pikiranku terlalu sibuk melogikakan banyak asumsi dan perkiraan. Anehnya, saat itu aku sama sekali tidak kaget saat akhirnya aku benar-benar menghabiskan sisa perjalanan sendirian, berbicara dengan diriku sendiri –tentu saja dalam sanubari supaya tidak dikira gila, boleh jadi saat itu aku galau tapi stok kewarasanku masih banyak tersisa. Tiga jam perjalanan berikutnya terasa benar-benar menyiksa. Hatiku bukan main sesaknya, tapi pikiranku luar biasa hampanya.

Seorang perempuan dari pengeras suara dalam gerbong mengumumkan bahwa dalam sepuluh menit kereta akan sampai di statsiun kotaku. Perasaanku tidak dapat dijelaskan, biasanya ada kebahagiaan meletup-letup dalam hatiku saat akhirnya kereta sampai di statsiun tujuanku, karena tandanya aku sampai di rumah. Aku membereskan ponsel dan pemutar musikku, memasukkan botol airku kedalam tas, lalu mengeluarkan tas ranselku dari dalam kompartemen. Perlahan laju kereta melambat, kemudian berhenti.

Perjalananku sudah berakhir, aku sudah sampai di tujuan akhirku. Aku berjalan menyusuri lorong menuju pintu keluar untuk kemudian menemukanmu duduk sendirian di kursi paling ujung gerbong ini. Langkahku berhenti, kita saling bertukar tatap untuk enam atau mungkin tujuh detik, kemudian kedua ujung bibirmu terangkat beberapa milimeter. Aku gagal mengartikan ekspresi wajahmu dan lekat tatapmu saat itu, sekeras apapun aku mencoba, dan hanya berakhir membalas tatapanmu dengan senyum simpul yang kubuat senormal mungkin -meski aku tak yakin itu terlihat benar-benar tulus dan normal-.

“Aku… sudah sampai di pemberhentianku”

“Ya, sampai jumpa lagi”

Bukankah setelah ini mungkin kita tidak akan berjumpa lagi, jadi kenapa kau bilang sampai jumpa?

“Ya, sampai jumpa…”

Aku melangkah keluar dengan bolong yang menganga begitu besar dalam hatiku. Ada banyak tanya yang tidak terjawab, menyisakan kosong dan hampa yang terlalu jelas untuk disamarkan dan disembunyikan. Aku terus berjalan, seingin apapun aku menoleh ke belakang, tapi tubuhku terus berjalan setengah berlari menjauh pergi keluar statisun tanpa menoleh lagi. Kereta kembali melaju, membawamu pergi menjauh, melanjutkan perjalanan. Statsiun ini adalah pemberhentian terakhirku dan juga juga pemberhentian terakhirmu pada awalnya, tapi kali ini –dan seterusnya- ini menjadi pemberhentian terakhirku saja.

Malam-malam setelah itu, ada kalanya aku mendapati diriku terbengong sendiri, mencoba mengurai segala perasaan rumit yang berserakan sambil menonton banyak reka ulang memori yang masih tersimpan begitu jelas dalam ingatan, kemudian berakhir mencuci kedua manikku dengan air mata –yang sialnya lebih sering meluncur deras seenaknya tanpa dikomando. Hari-hari menjadi abu-abu, seperti langit mendung Januari di sore hari.

Suatu siang di pertengahan bulan Maret yang mendung dan lembab, kudapati layar gawaiku berkedip-kedip, sebuah pesan masuk. Pesan itu kemarin-kemarin begitu kutunggu-tunggu dan kuharapkan, tapi kali ini firasatku tidak enak. Aku menatap ponselku dengan segala perasaan membuncah. Banyak kata-kata indah tertulis disana, ada namamu yang jelas tertulis lengkap dengan font tegak bersambung meliuk-liuk indah, -dari dulu aku selalu suka membaca dan menyebut nama lengkapmu-, bersanding dengan nama feminin lain juga yang tertulis sama indahnya. Namanya sama dengan namaku, tapi nama belakangnya berbeda. Sejujurnya, hal itu amat menggangguku. 

Dulu aku pernah berdoa agar namaku dan namamu bisa bersanding indah di sini, benar, namamu tertulis dengan namaku -nama yang sama dengan namaku- tapi bukan aku yang bersanding bersamamu. Tulungagung tertulis di alamat resepsimu, itu sudah cukup membayar rasa penasaranku juga.

Aku hanya bisa tersenyum tapi banyak embun berjatuhan dari mataku. Lega sekali. Iya "Lega Sekali" aku tidak salah tulis. Akhirnya aku medapat jawaban konkret dari semua pertanyaan yang selama ini hanya menggantung begitu saja. Kali ini kau benar-benar telah sampai di statsiun pemberhentian terakhirmu yang jelas bukan statsiun yang sama dengan pemberhentian terakhirku. 

Meski ini adalah kisah patah hati, tapi aku tetap ingin merayakannya sebagaimana hari-hari istimewa yang membahagiakan lainnya. Setidaknya merayakan kelegaan hatiku, merayakan awal baru dalam hidupku tanpa perasaan ngun-ngun dan bimbang, merayakan hari-hari kedepannya tanpa menulis lagi banyak harapan kosong dan mengandai-andai, tanpa mempertanyakan atau memperkirakan ini dan itu, tanpa sibuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan diriku untuk kemudian merasa mungkin kau pergi karena aku kurang ini dan kurang itu. Kemudian butuh beberapa beberapa waktu untuk menyadari bahwa apa yang menjadi bagianku pasti tidak akan pergi melewatiku, tak peduli sebaik atau sekurang apapun diriku saat itu. 

Hari ini empat tahun berlalu, dan aku terkekeh sendiri mengingat momen-momen itu, sungguh! Ah lebay sekali ya setelah ku pikir-pikir lagi. Tapi bagaimana pun, aku menerima semua itu sebagai bagian dari bagaimana diriku bertumbuh dan melontar kembali setelah ditempa keadaan yang sulit. Perasaan yang kurasakan saat itu valid dan sangat manusiawi, tentu saja! Saat itu aku masih terlalu naif untuk memahami bahwa tidak semua yang kita inginkan harus menjadi milik kita, tidak semua yang kita harapkan harus terwujud, tidak semua hal yang sudah kita beri mesti mendapat balasan. Kekecewaan datang karena ekspektasi kita sendiri yang tidak diiringi kelapangan hati untuk menerima bahwa ada probabilitas kenyataan yang bisa mengejek lancang ekspektasi. 

Aku kehilanganmu untuk menemukan diriku yang baru, yang sembuh dan tumbuh. Ditinggalkan dan merelakanmu adalah bagian dari perjalananku untuk mencintai diriku sendiri dengan lebih baik dan lebih tulus, hal ini sangat mahal. Aku sadar bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari diriku, dan sepenuhnya aku ikhlas pada diriku sendiri, menerima bahwa aku punya sisi gelap dan terang, aku punya masa-masa sulit dan menyedihkan tapi aku juga punya lebih banyak kenangan-kenangan menyenangkan, aku pernah menjadi naif tetapi aku mampu belajar dan bangkit dari itu semua, dan aku tidak mesti merasa rendah  karena semua itu. Lagi pula, manusia bisa berubah karena mereka terus belajar dan bertumbuh, dan ini adalah salah satu kisah dalam perjalanan bertumbuhku. Dan satu lagi, sebelum bisa memberikan cinta dan segenap kasih sayang kepada orang lain, akan ku pastikan bahwa aku sudah cukup memberi cinta untuk diriku sendiri.

Tak lama setelah itu, kabar bahagia lain datang dari sebuah perusahaan di Ibu Kota sana, masih di bulan Maret yang mendung dan penuh hujan. Aku memulai perjalanan baruku, menggapai apa yang kuimpikan selama ini. Tuhan menggelitikku lagi, hidup harus terus berjalan, meski badai memporak-porandakan dirimu dari dalam. Dengan mantap pada tanggal dua puluh empat aku pergi, memulai kisah baruku, memulai perjalananku untuk berdamai dengan ekspektasiku, dengan semua harapan yang tak terpenuhi, dengan semua luka dan kecewa. Timur dan Barat memang tidak pernah bisa bersatu, pada akhirnya. Dalam perjalanannya memang tidak mudah, tapi pada akhirnya aku pun sampai pada pemberhentianku, mungkin bukan yang terakhir, tapi aku tau kemana aku harus melangkah pergi. 

Hidup ini ibarat perjalanan berkereta, akan banyak sekali statsiun pemberhentian. Kita mungkin akan banyak berhenti, melewati dan menyaksikan berbagai hal baru di tiap statsiun pemberhentian. Terkadang kita bisa terpesona dengan apa yang dilihat dan cukup percaya diri bahwa itu statsiun yang tepat untuk berhenti. Ternyata setelah kita singgah, melihat dan merasakan lebih dalam, kita menyadari bahwa bukan itu tempat yang tepat untuk menetap, padahal kereta telah melaju pergi meninggalkan kita. Saat itu kita mungkin merasa sedih, frustrasi, kecewa, marah, dan bingung. Manusiawi sekali. Aku hanya ingin bilang, tak apa untuk pernah singgah di tempat yang salah, karena dengan itu kita jadi tahu bahwa kita harus melanjutkan perjalanan untuk mencapai pemberhentian terakhir kita yang sesungguhnya.

Aku sudah ada di kereta berikutnya, meninggalkan statsiun yang sempat salah disinggahi menuju statsiun pemberhentian berikutnya. Aku belum sampai di pemberhentianku yang terakhir, tapi aku yakin aku akan sampai di sana. 

Buatku, dulu kau adalah statsiun pemberhentian terakhirku. Aku kelewat pede dan yakin saat itu bahwa kau adalah yang kucari, rumah yang bisa kutinggali, tempat yang menjadi tujuan akhirku dari perjalanan pencarian panjangku selama ini. Well... Maklum karena katanya orang yang sedang dimabuk cinta kecerdasannya bisa terjungkal turun tak kira-kira. Ternyata kau adalah persinggahan yang salah. Tak apa. Terima kasih telah membiarkanku singgah, persinggahan itu mengajarkanku arti mencintai diri dan menerima takdir. Tentu saja perjalananku harus berlanjut. Aku pamit. 

Annyeonghi gyeseyo! Ddo mannayo!

 

 

 

 

 

 

Senin, 10 Januari 2022

Insomnia dan Dongeng Monster


Malam ini, lagi-lagi kantukku menguap hilang, sudah kumatikan lampu, ku kunci pintu, kutata bantalku, berharap segera terpenjam pulas. Tidur selain merupakan kebutuhan biologis Homo Sapiens, juga merupakan cara ajaib untuk melupakan sejenak realita dan segala cerita yang belum menemukan plot yang berakhir indah. Dewasa ini tidur dengan tenang menjadi hal yang kian mahal.

Sudah coba ku berdamai dengan ramai isi kepalaku, lelah badanku, ingin ku rehat, biar barang sesaat. Tapi perdebatan sedang berada di klimaks, sukar memberi argumen pamungkas untuk menengahi. Pasrah ku terlentang, menatap kosong.

Malam selalu terasa lebih panjang dan lebih melelahkan dari pada siang, setidaknya buatku. Orang bilang malam adalah waktu yang tepat untuk istirahat, saat sunyi bergerilya menyusupi sudut-sudut yang biasanya riuh saat hari terang, sunyi memeluk tubuh-tubuh ringkih untuk mati suri, sunyi menghipnotis jiwa-jiwa yang lelah untuk tenggelam dalam damai. Tapi buatku, malam seperti hamparan padang gelap dan sepi yang terbentang di pelupuk, di padang itu aku mengerang, berteriak, berlari, menari, berguling, bersenandung, atau hanya duduk bengong, menatap gelap, menghirup dalam-dalam udara yang entah kenapa terasa pekat, semakin dihirup, dada terasa semakin penuh dan sesak.

Sering kudapati sebagian diriku hilang, seperti menguap bersama udara, meninggalkan kekosongan yang terlalu nyata dan mencolok untuk diabaikan. Kemudian di lain waktu aku mendapati diriku begitu sibuk menambal di sini dan di situ, mengisi ini dan itu, mencoba mengenyahkan kosong yang melompong tidak elok itu. Tak jarang juga tambalan-tambalan itu di kemudian hari kembali bocor, dan segala macam isian yang ditambahkan kembali menguap, meninggalkan hampa yang akhir-akhir ini jadi terasa lebih familiar.

Berbagai topik diperbincangkan, dari yang tak penting: seputar pohon jambu di halaman yang entah kenapa dewasa ini tidak lagi berbuah lebat, hingga ke topik-topik yang semakin berat. Semua bising riuh dalam kepalaku. Begitu kontras dengan sunyi yang mengambang dan mengembang di ruangan ini. 

Sunyi menjadi belati yang terus menerus diasah dan diarahkan mendekat seinchi demi seinchi ke dadaku, semakin ia pekat, semakin tajam belati itu, semakin gaduh dalam diriku. 

Sunyi menjelma menjadi teriakan paling lantang yang tak pernah bisa didengar.

Ada banyak sekali hal yang sengaja (atau mungkin juga tidak) dikubur rapat dalam labirin paling bawah, paling ujung, dan paling gelap. Ia tersembunyi disana, dibalik pintu baja yang terkunci rapat, dijaga oleh berbagai perangkap jebakan, seperti yang ada di film James Bond. Aku berspekulasi, sepertinya yang terkunci disana adalah monster-monster mengerikan.

Sunyi mengikis satu persatu pertahanannya, hingga terbukalah ruang rahasia yang sebelumnya selalu terlupakan dan dihindari. Lebih seringnya diriku menjadi seperti bolong dan ngun-ngun saat mengetahui apa saja yang lama terkunci disana. Hatiku jadi terasa berat, kepalaku terasa penuh, banyak cuplikan ingatan melayang-layang di udara. 

Ada banyak raut wajah berkelindan dan suara-suara mengambang dalam hening yang kini terasa begitu menyakitkan. Kupejamkan mata, membiarkan hujan deras turun di wajahku, saat itu aku sepenuhnya disadarkan bahwa betapa faqirnya aku setelah segala perhiasan kutanggalkan begitu saja. Aku sendirian, dalam pasrahku, membiarkan tubuhku limbung diantara porak poranda, memanggil satu nama: Tuhan! Tuhan! Hei Tuhan! Kau masih disana, bukan? 

Dalam ketidakberdayaan aku  mendapati bayangan-bayangan yang menari-nari di atasku itu terlalu nyata untuk disangsikan, baiklah, aku menerimanya, aku mempercayainya, penuh! Semua itu bagian dari diriku, setakut, semuak, sebenci apapun aku dengan semua itu. Monster-monster itu berpesta pora, meruntuhkan apa saja, aku tanpa perlawanan (karena sebenarnya aku sudah tidak punya sisa tenaga dan keberanian) hanya membiarkan, memang bisa apa aku?

Hatiku perlahan terasa kosong, seperti satu persatu yang sarat itu menguar secara magis. Ada masa yang hilang yang hanya terlihat seperti lembaran catatan kosong. Terkadang rasanya terlalu aneh dan asing, menyaksikan monster itu meledak, menciptakan dentuman-dentuman keras, mengobrak-abrik kenangan-kenangan yang susah payah ditata dan disimpan, ruang sunyi itu kini sudah sepenuhnya tidak lagi sunyi.

Sudah ku bilang bukan, bahwa kekosongan itu menjadi ruang yang yang entah bagaimana kini terisi dengan ledakan-ledakan. Ruang itu kosong lagipula, aku tak perlu takut akan ada yang hancur (naif sekali pikiranku ini awalnya). Tetapi, ledakan tetaplah ledakan. 

Betapa lucu jika mengingat bahwa ledakan-ledakan itu terus terjadi, merembet dari satu ke yang lain, seperti kembang api di langit malam satu Januari. Awalnya terasa menyakitkan, tetapi lama kelamaan aku jadi kebas dan kebal, aku mulai terbiasa, akhirnya mati rasa seperti karang yang dihantam ombak. Jangan salah sangka, aku masih tetap berwujud manusia sejauh ini, masih satu spesies denganmu.

Bagaimanapun setelah sederat pesta ledakan itu selesai, monster-monster menjadi lebih jinak setelah lelah mengamuk, mereka tidak lagi menyeramkan. Hening mengalun, menguar seperti asap di udara. Kekacauan tidak pernah begitu jelas seperti kinii, sejauh manik memandang, puing-puing berserakan, berhamburan, berantakan tak beraturan. Terlalu banyak. Jadi harus dari mana aku mulai membereskan dan membersihkan semua kekacauan ini?

Aku terus bertanya dan terngungu seperti mendadak dungu, benarkah ternyata sekacau ini? Sampai lupa bahwa sesuatu tidak akan pernah bisa selesai jika bahkan kita tidak memulainya. Dan aku sadar aku terlalu banyak mengutuk daripada memulai untuk memunguti puing-puingnya, membereskan sedikit demi sedikit, setahap demi setahap hingga semua kembali pada tempatnya: yang layak disimpan kembali, yang tidak harus dibuang.

Padang sunyiku yang lapang kini tidak hanya gelap, tapi juga luluh lantah, berantakan tak berupa, sungguh kacau yang amat sempurna. Wow!

Aku sedang membereskannya (setidaknya aku sedang berusaha untuk itu), sepertinya akan makan waktu dan makan tenaga. Tapi katanya, tidak perlu terlalu terburu-buru, kalau capai boleh rehat dulu asal kembali dilanjutkan setelah rehatnya cukup.

Setidaknya tapi… Aku diajarkan waktu bahwa semua monster yang disembunyikan dipendam dalam-dalam itu pasti mencari jalannya untuk keluar, meledak dan mengamuk. Kemarin-kemarin aku terlalu sibuk untuk lari bersembunyi dan membangun benteng pertahanan, menghindar agar tidak terluka, menjauh karena takut ikut hancur. Eh, ini manusiawi, bukan?!

Seharusnya mungkin aku sedikit lebih tenang dan percaya diri, bukan, bukan! Setidaknya aku harus lebih berani. Monster itu mungkin bisa dijinakkan dengan sentuhan kesabaran dan ketulusan.

Dan mungkin padang sunyi itu tidak akan gelap lagi, jika aku menyalakan cahaya.

Malam ini aku masih tidak bisa terlelap, tenang tak kunjung datang. Aku kembali ke padang sunyiku (yang masih berantakan dan kacau itu), dan aku menemukan monster-monster yangg kini terlelap kelelahan itu nyatanya terasa begitu akrab buatku. Ku tatap lekat mereka tanpa jeda, menggerayangi setiap detailnya, sampai rasanya bola mataku panas dan sebentar lagi melompat dari tempatnya. Huhu. Haha. Aku menangis sambil tertawa.

Oh ayolah, ternyata mereka adalah aku.

 

Minggu, 14 November 2021

Sampai Kita Tua, Sampai Jadi Debu



Pagi masih terlalu muda, matahari belum  terjaga dan bulan yang renta masih bersinar lembut malu-malu. Shalawat dan puji-pujian berbahasa Sunda yang terdengar sumbang agak bergetar dikumdangkan seorang bapak tua lewat pengeras suara dari surau di seberang hamparan pesawahan. Masih ada sekitar tiga puluh menit sebelum adzan subuh dikumandangkan, tapi suara pancuran air sudah nyaring bergemericik dari  rumah Emak. Hari Emak memang selalu dimulai lebih awal dari terangnya langit. Dengan langkahnya yang ringkih dan sedikit menyeret kaki kirinya yang sendinya kaku-kaku akibat reumatik, Emak berjalan menuju kamarnya yang diterangi bohlam kuning 10 watt. Emak duduk diatas kursi plastik hijau metaliknya, (sudah hampir dua tahun ini Emak tidak bisa sembahyang sambil berdiri sempurna karena masalah di persendian kakinya) membungkus dirinya dengan jubah putih agak kusam, kemudian terdengar pelan takbiratul ikhram. Setelah beberapa rakaat, wirid dan beragam doa terpanjat, Emak masih duduk disana menanti adzan sembari membaca shalawat dan nama-nama Tuhan yang sudah dihapalnya diluar kepala. Suaranya mengalun tidak terlalu keras juga tidak terlalu pelan, dan suara senandungnya selalu berhasil membangunkan Abah dari tidurnya tepat beberapa saat sebelum seluruh muadzin di surau-surau hampir bersamaan mengumandangkan lafadz adzan. Setelah tertunai kewajibannya menghadap Tuhan, asap akan mengepul melewati jendela asap dapur, dua kuali ukuran sedang bertengger diatasnya.

Hari-hari Emak dan Abah hampir selalu sama, pergi berladang, mengurus ternak, mengurus sawah, menyiang lahan, menyadap nira, dan membersihkan rumput gulma di pekarangan yang disulapnya jadi kebun sayur; terung, cabai, daun bawang, pare, labu, seledri, bawang merah, kecambah, bayam, katuk, kangkung, timun, melinjo, kunyit, salam, serai, laos, dan kacang panjang tumbuh subur dan ceria di sana. Tiap hari sayuran itu dipanen untuk mengisi kuali di tungku tanah dapur kami, tapi Tuhan Maha Baik karena sEmakin dipanen justru pertumbuhan buah dan tunas barunya seperti balapan tak mau kalah cepat. Gerobak beroda satu warna merah terang akan terisi berbagai perkakas dan perbekalan, didorong agak tergesa oleh Abah menyusuri jalan setapak tanah melipir dari halaman belakang rumah kami, Emak kemudian berjalan pelan dengan langkahnya yang pendek-pendek, membuntuti dari belakang terpaut jarak sekitar sepuluh meter karena Emak dengan sebelah kaki kakunya itu tentu sudah tidak mampu mengimbangi langkah Abah. Abah selalu berjalan cepat dan terlihat terburu-buru seakan jika dia memperlambat langkahnya, maka dia akan diburu Dinosaurus. Belakangan kuketahui alasan mengapa Abah selalu berjalan cepat karena faktor keturunan katanya, sebab almarhum ayahnya dan empat abangnya punya cara berjalan yang serupa.

Tengah hari saat adzan dzuhur berkumandang, mereka akan pulang dengan masih mendorong gerobak merahnya yang berisi lebih banyak dan lebih penuh. Kadang beberapa kelapa bertengger, kadang ubi dan singkong, kadang jagung dan sayuran, kadang setandan pisang yang hampir menguning dan pepaya, mereka mengambil apa saja yang sudah layak dipetik dari sawah dan kebun mereka, dan ini menjadi alasan mengapa gudang penyimpanan dan keranjang dapur tak pernah terlihat kosong. Sesampainya di rumah, segelas air seduhan gula merah akan cukup menghibur rasa lelah dan gerah mereka. Soal makan, aku tidak pernah menjumpai Abah yang protes mengapa Emak doyan sekali memasak sayur setiap hari. Abah hanya akan menyendok nasi dua kerukan penuh, kemudian mengguyurnya dengan sayur, ikan asin sangrai dan sambal yang nyaris kehilangan harga diri karena rasanya tidak pedas sama sekali.

Saat hari sudah agak menua, sembari menyantap singkong rebus dan engsrod –sejenis kerupuk yang terbuat dari parutan singkong- Abah akan terus bercerocos, menceritakan apa saja yang dijumpainya seharian ini. Ceritanya kadang dimulai dengan keadaan sawah yang tak kunjung digenangi air, tikus tanah nakal yang menggarong ubi-ubi di kebun, perangkap lalat yang lemnya tidak lengket, bangkong di sawah yang bertelur subur menempel di pematang sawah, harga pupuk yang sEmakin tidak masuk akal, pertemuannya dengan rekan sesama petani, adzan dari salah satu surau yang selalu lebih cepat 15 menit dari jadwal seharusnya, bebek-bebeknya yang bertelur tidak menentu, atau membahas musim hujan yang dirasa masih ragu-ragu berpesta membawa kabar gembira. Emak akan menimpali atau hanya tertawa, karena Emak berpendapat dari zaman masih bujang hingga sekarang sudah jadi bujang lapuk, Abah tidak pernah berubah: masih selalu bercerita dengan penuh semangat dan bernada jenaka, dan hal itu jadi hiburan tersendiri buat Emak.

Selepas isya giliran Emak yang bercerita, kadang mengulang topik yang sama yang sudah dibahas sebelumnya, kadang juga hanya bercelutuk sederhana tentang apa saja yang terlintas di pikirannya. Kemudian diatas kasur kapuk yang digelar di ruang teve, mereka akan tawar menawar menentukan siapa yang lebih dahulu harus memijat sambil mengolesi balsem. Biasanya Emak akan mengalah karena Abah lebih banyak berargumen ini itu dan hal itu membuat Emak sebal. Aroma balsem menguar memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma tubuh mereka yg khas. Setelah memijat Abah kemudian Emak akan menagih gilirannya, hal ini sering juga membuat Emak sebal dan protes, karena Abah hanya akan membayar dengan memijat alakadarnya dengan alasan sudah keburu mengantuk. Emak akan mengomel kemudian mengancam bahwa mulai besok Emak tidak akan mau disuruh memijati Abah lagi, Abah hanya akan nyengir dengan suara tawanya yang jenaka memamerkan sederet gusi merah muda yang sudah yatim piatu. Ku perhatikan hingga saat ini ancaman itu tak pernah benar-benar terbukti.

Semakin tua, cinta banyak bertransformasi, bukan lagi dalam bentuk hadiah-hadiah kejutan, kata romantis, atau kecupan di kening. Cinta menjadi semakin sederhana, diterjemahkan dengan saling merawat, menemani, dan saling berbagi. Cinta berwujud nasi hangat dan sayur yang tersaji tiap hari di meja makan. Cinta berwujud tidak pernah membiarkan salah satu menjadi hanya satu. Cinta berwujud menemani langkah beriringan. Cinta berwujud saling berbagi perasaan dan saling mendengarkan. Cinta berwujud saling mengolesi balsem dan memijati satu sama lain bergantian sebelum terlelap. Cinta berwujud doa-doa tulus memohon kesehatan, keberkatan, kebahagiaan, dan panjang umur untuk satu sama lain. Cinta berwujud rasa syukur yang selalu deras terucap merayakan setiap hari yang dilewati bersama, menerima dengan patuh dan sungguh semua suka dan dukanya, tawa dan tangisnya. 

“Tiap pagi menjelang kau disampingku, ku aman ada bersamamu… Selamanya… Sampai kita tua, sampai jadi debu… Ku di liang yang satu, ku disebelahmu…”

 

Senin, 01 November 2021

Kisah dari Halaman Belakang

Dokumentasi pribadi

Tiba-tiba aku lupa bagaimana tepatnya kita bertemu untuk pertama kalinya, tapi aku selalu ingat kapan terakhir kali kita berjumpa. Sore itu gerimis tipis-tipis, tetesan airnya terlihat membentuk gelombang kecil bulat yang kemudian menyebar di atas air kolam kehijauan di hadapanku. Kita duduk berhadapan di bangku pojok halaman belakang, saling betukar cerita dan bercanda, berguyon tentang kodok dan kereta api, mengabaikan beberapa bunyi ting-tong dari gawai yang dicampakkan begitu saja di atas meja. Petang itu kita masih duduk seperti itu, dengan topik pembicaraan yang ringan diselingi tawa kemudian memberat. Terkadang sampai lupa bahwa saat itu kita hanya manusia yang baru menginjak seperempat abad usia, belum terlalu senior dan belum bisa dikatakan cukup berpengalaman dalam menganyam berbagai hal runyam. Tapi begitulah waktu dua ratus empat puluh menit berlalu, melintasi pergantian shift antara matahari dan rembulan.

Malam itu, diantara perbincangan kita, aku telah sampaikan semua bahwa aku merelakanmu (tentu saja secara tidak langsung dan dengan bahasa tersembunyi). Aku sangsi kau menyadari hal itu, atau bisa juga sebenarnya kamu paham betul apa maksudku namun berpura-pura naif, karena setelah ku pelajari, itu jadi salah satu keahlianmu selama ini. Napasmu berhembus panjang dan berat, tapi bibirmu tetap terkatup rapat. Hatiku berdebar tak karuan, perlahan aku paksakan agar mataku lurus menatapmu karena sedari tadi aku hanya bisa melempar pandang pada rintik air di kolam. Saat mata kita bertemu, dalam hitungan tiga ketukan aku menjumpai tatapanmu justru kian sulit untuk ditafsirkan.

Jari tengah dan telunjukmu bergantian mengetuk-ngetuk meja dengan sangat perlahan hingga nyaris tak bersuara. Hening menggantung begitu jelas dan terang, melongkap jarak diantara bangkuku dan bangkumu yg saling berhadapan. Lagu Dean Lewis (yang saat itu aku tak ingat apa judulnya) mengalun tidak terlalu keras tapi tidak juga terlalu pelan dari pemutar musik. Saat lagunya memasuki bagian reffrain bibirku perlahan mengikuti liriknya yang sudah ku hapal di luar kepala: "I just wanna stay, but my friend says: I know you love her but it's over mate, it doesn't matter put the phone away, it's never easy to walk away, let her go... It'll okay... It's gonna hurt for a bit of time, so bottoms up let's forget tonight, you'll find another and you'll be just fine, let her go... It'll be alright.. It'll be alright... It'll be alright..." dengan subjek Her yang kuganti dengan Him. Semua perlahan berubah jadi biru dalam pandanganku.

Setidaknya, telah kutepati janji pada diriku: untuk mengatakannya langsung padamu, walau konsekuensi yang harus kutanggung tak kalah menyebalkannya dari pemadaman listrik tanpa pemberitahuan di waktu kerja. Kusampaikan tentu dengan bahasa metafora, jelas saja tak bisa kukatakan dengan jelas begitu saja karena lagi pula sudah kutebak bagaimana akhirnya (dengan modal ke-sok tahuan  dan intuisiku). Walau begitu, aku masih belum cakap benar dalam menata hati, setelah rasanya pecah berkeping-keping dihantam dirimu yang bergeming kukuh dalam diam.

Pipimu selalu matang saat cuaca terlalu panas atau terlalu dingin. Punggung tanganmu menjadi lebih gelap karena akhir-akhir ini kau cukup sering keluar siang hari. Aroma pewangi pakaian yang menguar dari jaket yang kau letakkan di atas meja masih sama, sampai kurasa aku pasti bisa menebak tepat jenis pewanginya. Kebiasaanmu tetap begitu, kau pasti mengaduk latte dalam cangkirmu hingga buihnya menyatu, karena kau tidak pernah suka jika buih itu meninggalkan jejak putih di atas bibirmu saat kau meneguk perlahan isinya. Nada dering ponselmu masih sama, begitu pula goresan-goresan pada casing penutup bagian belakangnya, belum sempat menggantinya, huh?  Balasan-balasanmu juga masih sama; tidak pernah lebih dari satu kalimat pendek sederhana pada pesanku yang hampir satu paragraf penuh dan butuh jeda berpuluh-puluh menit untuk membalas setelah kau membacanya. 

Sial! Aku masih mengingat detail-detail itu dengan jelas. Sekuat tenaga kutelan bulat-bulat rasa sesak yang hampir saja jatuh mengalir deras. Rahangku mengeras, kedua manikku terasa semakin panas, aku terdiam beberapa saat; pertama, agar kau tak perlu mendengar suaraku yg saat itu pasti bergetar dan kian sumbang. Kedua, aku sedang berusaha keras membendung air bah yg siap tumpah dari kedua mataku. Ketiga, kata-kata mendadak kabur, pikiranku kosong melompong. Aku memecut diriku agar kembali bersikap senormal mungkin meski berbagai perasaan aneh seperti sedang berpesta pora dalam hatiku. Hah... aku menarik napas panjang, sedih dan buntu. Jarak antara kita sedekat ini tapi juga selalu terasa sejauh itu.

Malam itu pukul delapan lewat dua puluh empat, kita berpisah. Tidak banyak basa-basi terucap, salam perpisahan pun amat sederhana dan singkat. Kau memacu kendaraanmu ke timur sedangkan aku ke barat. Gerimis telah reda, rembulan entah bagaimana terlihat seperti sedang gembira merayakan kemenangannya menghalau mendung di atas sana. Entah kenapa kali ini aku tidak suka dengan rembulan itu, dia nampak seperti mengejek dan menertawaiku karena kini hujan telah berpindah ke wajahku.

Di ujung wiridku, aku berdoa untuk kebahagianku tapi anehnya saat ku jabarkan, doa itu sering berakhir dengan tiba-tiba terlintas bayangan wajahmu. Rasanya seperti semakin aku membiasakan diriku untuk menerima kenyataan bahwa mungkin namaku tidak ada dalam daftar istimewamu dan tidak tersebut jua dalam doamu, semakin sering juga tiba-tiba dadaku terasa sesak seperti dipukul-pukul, ngilu seperti ditusuk sembilu, kemudian cuplikan-cuplikan tentang dirimu berkelindan, muncul bergantian bak rangkaian potongan pilem yang diputar pada layar tancap di langit-langit kamarku. Sering kali hal itu membuatku sulit untuk terlelap saat malam, menciptakan semacam rasa pening saat pagi menjelang.

Sejak saat kau membawa nama feminin lain pada obrolan akhir pekan kita di bangku halaman belakang, aku mulai bersungut untuk menyunting redaksi doaku. Kebahagiaanku tidak harus lagi berasosiasi dengan dirimu, tapi dengan siapa saja yang Dia kirim. Dan boleh jadi itu kau, boleh jadi bukan. Tidak mengapa. Lagi pula, tidak semua hal dalam hidup harus berjalan sesuai skrip buatan kita, bukan?! 

Sudah lama sejak terakhir kali mataku menjadi sering sembab hampir tiap dini hari karena menangis patah hati (aku berusaha untuk legawa setengah mati untuk mengakui ini). Tak apa, tetapi kali ini aku tidak mau terlalu lama menguras air mata seperti yang sudah-sudah. Itu mauku, tapi apalah daya. Manusia tetaplah manusia. Kecewa adalah kecewa. Sedih adalah sedih. Patah hati tetaplah patah hati.

“Jangan terluka lagi, lain kali harus lebih hati-hati!” kataku tegas pada diriku.

“Lihatlah sekarang, dia kembali mengharapkan seseorang yang mengharapkan orang lain” kataku lagi.

  

 


Kamis, 26 September 2019

Kisah Anak Multimedia yang Masuk Fakultas Psikologi Unpad (Part 2)

Hai! Assalamualaikum!
Long time no see guys! kali ini aku kembali lagi dengan sedikit kisah pengalaman yang mau kubagi. Dulu waktu awal-awal kuliah, excited banget untuk menceritakan kisahku ketika awal-awal masuk ke Fakultas Psikologi Unpad dengan backgroundku sebagai alumni SMK Multimedia, nah di bagian kedua ini aku mau cerita soal cara masuk Fakultas Psikologi Unpadnya nih, anak SMK kata siapa nggak bisa PTN papan atas?! Bisa-bisa aja tau! Yuhuuu mari kita mulai ceritanya! Eits, bagi yang belum baca bagian pertamanya, bisa mampir kesini dulu ya Kisah Anak SMK Multimedia yang Belajar di Psikologi Unpad

Tahun 2011 aku lulus dari SMPN 6 Banjar dengan hasil yang alhamdulillah sangat memuaskan, nah gilirannya galau, duh mau lanjut kemana ya? Guru-guru menyarankan aku masuk ke SMAN 1 saja mengingat SMAN 1 itu SMA favorit dan SMA terbaik di kotaku. Tapi di SMA itu hanya ada 2 jurusan, IPA & IPS aja sedangkan aku tidak sama sekali minat dikeduanya, passionku di bahasa tapi sayangnya di kotaku tidak ada satupun SMA yang memiliki jurusan bahasa. Akhirnya aku putuskan masuk SMK saja, ambil jurusan yang sekiranya mudah diserap oleh dunia kerja in case aku nggak bisa lanjut kuliah setelah nanti lulus, karena menurutku masuk SMK itu serba bisa, lanjut kuliah bisa, langsung kerja juga bisa. Dengan jalur undangan akhirnya alhamdulillah SMKN 1 Banjar menyambutku. Kala itu SMK 1 hanya punya 4 jurusan, Multimedia, Akuntansi, Tata Niaga, & Adminiatrasi Perkantoran. Dari keempatnya aku hanya tertarik pada dua jurusan, Adm. Perkantoran & Multimedia. jurusan itu ditentukan berdasarkan hasil psikotest, kecuali multimedia yang memang ada tesnya tersendiri. Berbekal nekat akhirnya aku ikut testnya, qadarullah luluslah aku di Multimedia. Okay babak baru dimulai, aku jadi anak SMK Multimedia Yuhuuu! 

Tiga tahun ditempa disana, Multimedia mengajarkan banyak hal, menuntutku jadi orang yang peka terhadap kemajuan tekhnologi dan pemanfaatan tekhnologi untuk memudahkan penyiaran media. Pengetahuan dasar tentang penggunaan berbagai software Multimedia sepeti Adobe family, Corel, Autocad, Dreamwaver sudah pasti harus dikuasai at least sampai tingkat moderatenya. Kemudian kemampuan memahami sistem kerja komputer juga adalah sebuah kewajiban. Satu hal yang paling aku suka dari Multimedia ini adalah tiap pembelajarannya menuntut aku untuk jadi 'seniman kritis dan kreatif'. Guruku bilang, modal utama siswa Multimedia bukan hanya harus punya laptop spect tinggi, tapi kreativitas yang utama. Salah satu mapel yang menjadi favoritku adalah Sinematografi dan Teknik Fotografi karena belajarnya bisa dimana aja, bisa ngasah kreativitas banget dengan media kamera. Tugas membuat karya fotografi dan filem pendek itu adalah tugas yang paling menyenangkan pokoknya. 3 bulan masa magang/PKL juga jadi saat yang seru karena itu jadi simulasi untuk bekerja di dunia kerja nantinya. Kapan lagi juga bisa belajar di tempat selain sekolah selama 3 bulan kan, plus dapat fee pula! 

Nah, dari sini udah kebayang kan gimana kehidupanku di SMK sebagai anak teknik?